03 Mei . News SIAB Indonesia Terpilih Mengikuti Inkubasi Pertama di Bidang Penyediaan Air Bersih

Sejak pandemi COVID-19 melanda, jumlah konsumsi air bersih mengalami peningkatan secara signifikan. Salah satu faktornya adalah penerapan protokol kesehatan dalam keseharian masyarakat seperti cuci tangan dan mandi yang frekuensinya meningkat sebesar tiga hingga lima kali lipat dari kondisi normal. Indonesia Water Institute pada 2021 silam bahkan melaporkan bahwa setiap rumah tangga setidaknya saat ini membutuhkan 995 liter hingga 1.415 liter setiap harinya. Angka tersebut tentunya jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal sebelum pandemi yang hanya berada di angka 415 liter sampai 615 liter saja setiap harinya.

Sayangnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2021 silam menuturkan bahwa setidaknya 59% sungai di Indonesia dalam keadaan tercemar berat dan tidak memungkinkan biota air sungai untuk dapat hidup. Otomatis, air tersebut pun jelas tidak layak konsumsi untuk manusia. Jika dibiarkan, maka lambat laun masyarakat Indonesia dapat dihadapkan pada kondisi defisit air minum layak. Maka dari itu, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berupaya meningkatkan kapasitas penyediaan air minum layak untuk masyarakat.

Kementerian PUPR bekerjasama dengan United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada 15 September 2021 silam meluncurkan INCUBITS, sebuah platform kolaborasi yang mendukung berbagai bentuk pengembangan inovasi di bidang air bersih, sanitasi, dan higienitas. Dengan melibatkan berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, akademisi, sektor swasta, lembaga non-profit, dan juga generasi muda; INCUBITS diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk percepatan penyediaan akses air minum, sanitasi, dan higienitas bagi masyarakat.

Selaku inkubator pertama yang fokus pada solusi penyediaan air minum layak, sanitasi, dan higienitas; INCUBITS setidaknya pada putaran pertamanya berhasil menjaring perhatian 94 startup untuk mengirimkan proposal bisnis dan inovasinya. Dari 94 startup tersebut, hanya 15 diantaranya yang akhirnya berkesempatan untuk melaju hingga ke tahap pitching.

Siaga Air Bersih (SIAB) Indonesia, startup Indigo tahun 2020-1 menjadi salah satu yang berhasil memukau dewan juri di tahap pitching tersebut dan menjadi satu dari enam startup yang terpilih untuk mengikuti program inkubasi dan business matchmaking yang akan segera digelar dalam waktu dekat.

Startup asal Surakarta ini menghadirkan Water Management System terintegrasi secara real-time dengan memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) sebagai solusi penemuan sumber mata air, proses filtrasi air bersih secara otomatis, hingga pendistribusiannya. Solusi yang ditawarkannya tersebut telah digunakan oleh berbagai pihak; mulai dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Jawa Tengah, hingga industri pariwisata yang membutuhkan manajemen sumber air seperti perhotelan dan kolam renang.

Selain itu, startup yang sempat menjuarai ajang Appcelerate yang diselenggarakan Lintas Arta dan Universitas Gajah Mada (UGM) pada 2019 silam ini tercatat telah menyalurkan setidaknya sebanyak 92.331.000 liter ke 142 keluarga di 6 daerah.

EPILOG:

Kepiawaian SIAB Indonesia dalam memukau dewan juri di tahap pitching erat kaitannya dengan rangkaian kegiatan pembekalan dan pelatihan yang dijalaninya selama masa inkubasi dengan Indigo. Maka dari itu, tidak mengherankan apabila Indigo juga kembali dinominasikan dalam ajang “Asean Startup Awards 2021” pada kategori “Best Accelerator/Incubator Program”. Dukung Indigo sekarang juga melalui link ini, ya!