28 Apr . News Indigo Bootcamp Week 4: Growth Hacking

Pekan keempat yang juga merupakan sesi terakhir dari Indigo Bootcamp 2022, telah diselenggarakan pada 23 April silam. Topik yang diangkat sebagai penutup bootcamp ini adalah “Growth Hacking” dan dibagi dalam dua sub-topik yang dibawakan oleh Niki Tsuraya Yaumi (Co-Founder & COO GOERS) dengan pemaparan terkait “Align Your Team with What Watters: North Star Metrics & OKR” dan Tommy Martin (COO Qoala) yang membahas “Introduction to Growth Hack


Niki membuka sesi dengan menjelaskan definisi dari North Star Metrics, yakni penentuan value dari bisnis maupun product yang akan disampaikan ke konsumen. North Star Metrics ini sendiri sering digunakan oleh perusahaan untuk menyederhanakan strategi pengembangan bisnis secara keseluruhan. Selain itu, North Star Metric juga memudahkan para tim untuk melakukan implementasi.

“Karakter North Star Metrics is a very customer driven, hal ini harus menjadi reflection dari amount of values yang startup berikan kepada customers,” ungkap COO dari GOERS tersebut.

Menurut alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ini ada tiga benefit yang bisa didapatkan perusahaan dengan menerapkan North Star Metrics. Yang pertama adalah alignment, yang mana seluruh tim baik dari divisi marketing, product, development, dan sisanya harus memiliki goals yang sama, yaitu menggerakkan North Star Metrics ini. Kedua, saat menerapkan North Star Metrics perlu adanya transparency antar tim sehingga semua tahu sejauh mana progress yang dilakukan. Terakhir, North Star Metrics mengarahkan para tim untuk lebih fokus dalam mencapai goals perusahaan.

“Menerapkan North Star Metrics dapat membuat kita untuk lebih fokus (dalam) improving customer experience in all way yang nantinya akan driving our revenue juga”, ucap Niki sembari mempertegas benefit ketiga dari North Star Metrics.

Sementara itu, Tommy Martin selaku COO Qoala menjelaskan bahwa Growth Hacking bukan hanya tentang pertumbuhan, melainkan sesuatu yang scalable serta memiliki impact atau suatu kesuksesan. Untuk mencapai kesuksesan itu sendiri diperlukan generation yang melibatkan banyak kegiatan testing.

Menurut pria yang sempat bekerja di Traveloka ini, tidak sedikit orang melihat bahwa Growth Hackers hanya dari sisi marketers saja. Lebih lanjut, Tommy memperjelas bahwa Growth Hackers juga melibatkan fungsi-fungsi dari tim product, technology, dan developers. Tentunya, Growth Hacking itu sendiri juga bergantung dengan tujuan atau goals yang ingin dicapai oleh perusahaan.

Pria lulusan University College London ini juga menjelaskan perbedaan mendasar dari Traditional Marketing dan Growth Hacking. Menurutnya, traditional marketing sangat bergantung pada teori yang tentunya sudah banyak didukung dan dibuktikan oleh fakta. Sementara growth hacking banyak dipengaruhi oleh hipotesis yang masih perlu dibuktikan dengan eksperimen lebih lanjut.

“Dalam dunia teknologi, segala sesuatu bergerak dengan sangat cepat. Oleh karena itu, dari sisi produk maupun value proposition harus diinovasikan secara terus menerus dengan mengikuti pemahaman industri masing-masing” ujar Tommy.

EPILOG

Melalui materi tersebut, harapannya para peserta dapat memahami serta menyusun One Metrics That Matters (OMTM), membuat strategi go-to-market, sekaligus traction details yang nantinya akan menjadi bahan penilaian lebih lanjut atas performa para startup selama masa bootcamp ini. Dengan berakhirnya Indigo Bootcamp 2022, dua puluh startup yang telah terpilih akan kembali dikurasi oleh Indigo. Startup yang dianggap aktif serta memenuhi kualifikasi selama masa bootcamp akan berkesempatan untuk maju ke tahap berikutnya, yakni tahap pitching.

Rangkaian kegiatan bootcamp yang komprehensif ini merupakan salah satu faktor yang membuat Indigo kembali dinominasikan dalam ajang Asean Startup Awards dengan kategori “Best Accelerator/Incubator Program”. Dukung Indigo sekarang juga melalui link ini, ya!