16 Okt . News Indigo Startup Bootcamp #2: Startup Idea Evaluation

Indigo Startup Bootcamp telah memasuki pekan kedua pada hari Sabtu (9/10) silam. Pada kesempatan kedua ini, para startup disuguhi topik “Startup Idea Evaluation”, yang menghadirkan tiga narasumber ahli dan praktisi di bidangnya; diantaranya Fadli Wilihandarwo (CEO Sekolah Startup) yang membawakan sub-topik “Idea Generation and Lean Canvas”, lalu juga ada Natali Ardianto (Co-founder & CEO Lifepack.id and Jovee.id) dengan pembelajarannya terkait “Agile Product Development”, dan ditutup oleh Jesslyn Siswanto (Sr. Lead UX Tokopedia) yang memaparkan “How to Identify User Behavior and Their Needs Through UX Research”.


Idea Generation & Lean Canvas
Fadli Wilihandarwo (CEO Sekolah Startup)

Pada kesempatan ini, Fadli membantu para founder startup yang hadir terkait proses identifikasi ide dan solusi atas sebuah permasalah yang ada dan melakukan validasi terhadapnya.

“Jadi step-nya attach info baru yang teman-teman dapat ke info lama, cari similarity-nya, lalu berikan batasan dalam bentuk pertanyaan,” ungkapnya.

Yang dimaksud Fadli dalam pernyataannya tersebut adalah dalam menggali ide para founder startup harus melakukan berbagai persiapan seperti membaca buku, situs, hingga mengecek produk dari kompetitor. Berbagai informasi yang didapatkan tersebut kemudian coba dibenturkan dengan informasi lama yang menjadi dasar ide atau solusi di awal, lalu coba identifikasi kesamaan dari seluruh informasi tersebut. Saat memproses seluruh informasi tersebut, coba berikan batasan terhadap ide dan informasi yang didapatkan. Karena menurut Fadli, dengan memberikan batasan akan timbul sebuah solusi menarik atas ide atau permasalahan yang diusung di awal. Namun, ide yang didapat tersebut perlu dimatangkan kembali sehingga sebaiknya para founder startup tidak terlalu cepat mengambil keputusan.

“Jangan buru-buru ambil keputusan, jangan reaktif terhadap ide dan solusi yang muncul, kasi waktu untuk otak dan emosional temen-temen untuk menghasilkan keputusan yang terbaik,” ujar Fadli.

Menurutnya, dalam memproses ide dan informasi tersebut otak harus diberi kesempatan untuk menemukan Aha!-Moment sehingga dapat lahir sebuah ide atau solusi yang baik. Namun, para founder perlu keluar dari rutinitas hariannya untuk bisa mendapatkan Aha!-Moment tersebut. Karena di waktu tersebut, otak akan lebih baik dalam memproses informasi-informasi sehingga tercipta lah Aha!-Moment tersebut.

Proses selanjutnya yang perlu ditempuh oleh para founder startup adalah melakukan validasi atas ide atau solusi tersebut. Validasi yang paling bisa dijadikan acuan adalah melalui penjualan.

Menurut Fadli, jika ada yang bersedia mengeluarkan uang untuk produk atau solusi yang ditawarkan para founder startup, itu artinya permasalahan yang diangkat memang ada dan solusi yang ditawarkan bisa jadi cocok atau setidaknya dirasa cukup untuk mengatasi permasalah tersebut. Pihak-pihak yang rela membayar untuk ide atau solusi yang ditawarkan tersebut bisa dikatakan sebagai early adopter, yang artinya para founder bisa memanfaatkan mereka untuk menggali informasi lebih lanjut agar dapat mengembangkan ide tersebut. Selain itu, para founder juga bisa melakukan social engineering terhadap para early adopter tersebut untuk membangun profil pelanggan dari produk atau solusi yang ditawarkan.

Seluruh proses tersebut kemudian dituangkan ke dalam lean canvas. Namun, para startup founder harus menghindari kesalahan utama yang banyak dilakukan ketika menyusun lean canvas, yakni kurangnya mencantumkan hal-hal spesifik yang bisa membantu perkembangan ide.

“Pencantumannya harus spesifik sekali. Seperti misalnya untuk target market harus ‘Ibu hamil pertama kali yang sedang di trisemester awal’. Kenapa? Karena permasalahan yang dihadapi ibu hamil trisemester awal yang hamil kedua dan pertama pasti beda,” jelasnya.

Sebagai penutup, Fadli menekankan pentingnya memanfaatkan privilege yang dimiliki sebaik mungkin. Karena tidak jarang, tanpa diperkirakan justru pemanfaatan privilege tersebutlah yang nantinya akan banyak membantu.



Agile Product Development
Natali Ardianto (Co-founder & CEO Lifepack.id and Jovee.id)

Agile itu adalah sebuah mindset. Hampir semua aspek sekarang harus memiliki agile mindset,” ungkap Natali Ardianto saat membuka sesinya.

Natali memaparkan bagaimana agile merupakan sebuah metode yang banyak digunakan oleh perusahaan teknologi untuk menggantikan metode waterfall yang sebelumnya diterapkan. Dengan masifnya perubahan di dunia teknologi, pendekatan metode agile dirasa jauh lebih menguntungkan. Karena, sekalipun perencanaan produk tidak sematang seperti dalam metode waterfall, penerapan metode agile dapat lebih cepat memperkenalkan Minimum Viable Product (MVP) ke pelanggan dan mengarahkan pengembangannya berdasarkan feedback mereka.


BACA JUGA: Indigo Startup Bootcamp #1: Startup Founding Team

Ada empat agile values yang diperkenalkan oleh Natali di pemaparannya. Pertama, individuals and interactions over processes and tools, yang artinya interaksi dan komunikasi yang intensif jauh lebih diutamakan di atas hal lainnya. Tingginya interaksi serta komunikasi dengan pengguna dapat dimanfaatkan untuk menggali berbagai informasi untuk proses pengembangan produk.

Kedua, working software over comprehensive documentation, yang artinya dalam metode agile tim harus fokus dalam menghasilkan produk yang baik dan bisa digunakan. Berbeda dengan metode waterfall yang menekankan pentingnya dokumentasi dan spesifikasi produk di awal proses, dalam metode agile fokus tim tidak boleh terbuang untuk proses dokumentasi yang panjang, melainkan harus diiringi dengan eksekusinya secara langsung.

Ketiga, customer collaboration over contract negotiation, yang artinya dalam metode agile, feedback pelanggan menjadi patokan utama yang perlu dipertimbangkan sebagai arah pengembangan produk. Berbagai asumsi yang belum terverifikasi keabsahannya, meskipun disampaikan oleh founder startup sekalipun, harus dikesampingkan.

Keempat, responding to change over following a plan, yang artinya seluruh tim harus mau dan siap untuk mengubah rencana di tengah jalan demi memenuhi kepentingan pelanggan, sekalipun dianggap berisiko. Jika segan atau bahkan takut dalam melakukan perubahan dan tidak bisa adaptif, besar kemungkinan akan tertinggal.

“Kalau tidak mau berubah, maka perubahan itu yang akan meninggalkan mereka,” ujar Natali Ardianto sembari menutup sesinya.


How to Identify User Behavior and Their Needs Through UX Research
Jesslyn Siswanto (Sr. Lead UX Tokopedia)

You might be creating a product yang sebenarnya nggak dibutuhin sama user. Jadi at the end maybe not a lot of people will using your product. That’s why it’s important for you to create a product that is tailor what your user needs. Makanya perlu di-research sehingga kita bisa tau feedback-nya user dan kebutuhannya itu apa,” ujar Jesslyn di awal sesinya.

Jesslyn mengungkapkan bahwa dalam menghasilkan UI/UX yang baik, seorang UI/UX designer perlu menerapkan design thinking. Selain itu, UI/UX designer juga harus bisa berempati dengan para pengguna sehingga bisa menghasilkan hal-hal yang dapat mempermudah pengguna melalui UI/UX yang dibuatnya. Untuk itu, perlu dilakukan riset-riset yang melibatkan pelanggan secara langsung agar tidak terpaku pada asumsi pribadi.

Ada tiga riset yang paling penting untuk dilakukan oleh para founder startup, yakni product research untuk mengidentifikasi fitur apakah yang sekiranya dibutuhkan oleh pengguna; lalu UX research yang perlu dilakukan untuk memperhatikan dengan baik pengalaman pengguna ketika menggunakan produk kita; dan yang terakhir market research yang digunakan untuk mengukur pangsa pasar dari produk kita.

Untuk menunjang UX research sendiri, ada dua macam riset yang perlu dilakukan; yaitu foundational research dan directional research.

Sesuai namanya, foundational research adalah riset mendasar terkait pengalaman seperti apa yang ingin diberikan kepada pengguna saat menggunakan produk kita. Sering kali riset ini akan membutuhkan proses panjang dan memakan waktu yang cukup lama. Namun, hasil dari riset ini akan relevan untuk jangka waktu yang panjang.

Sementara itu, directional research dilakukan untuk memecahkan satu permasalahan khusus. Sehingga riset ini cenderung lebih pendek prosesnya dan cepat dibanding foundational research. Namun, hasil yang didapatkan dalam directional research ini pun juga hanya akan relevan untuk waktu yang relatif pendek. Maka dari itu sangat mungkin sekali dalam proses UX research ini dilakukan satu foundational research dan disusul dengan beberapa directional research sesudahnya.


EPILOG

Melalui bootcamp pekan kedua ini, para peserta diharapkan dapat mengevaluasi kembali bagaimana proses pemilihan ide yang mereka lakukan dan mengembangkannya dengan menggunakan strategi yang tepat berdasarkan materi yang telah disampaikan oleh para narasumber. Pekan selanjutnya, para peserta akan disuguhi dengan topik Growth Hacking.