11 Jun . News Digitiket: Solusi Berwisata Aman di Kala Pandemi

Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang sangat signifikan pada industri pariwisata sepanjang 2020. Berdasarkan data yang dihimpun United Nation World Travel Organization (UNWTO), selama periode Januari-Oktober 2020 rata-rata kunjungan turis internasional di seluruh dunia merosot drastis hingga 72% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Jika dipersempit ke lingkup Asia-Pasifik, angkanya bahkan lebih besar. Penurunan kunjungan turis internasional mencapai 82% pada periode tersebut.


Industri pariwisata di Indonesia pun mau tidak mau juga mengalami dampak tidak mengenakan. Bahkan, dampak tersebut sudah terasa sejak diberlakukannya pembatasan perjalanan untuk membantu menekan laju penyebaran COVID-19 pada bulan Maret 2020 silam. Kedatangan turis mancanegara menurun drastis pada bulan tersebut, mencapai 64.11% dibanding tahun sebelumnya.


Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran juga mengungkapkan bahwa rata-rata nasional dari tingkat okupansi paling tinggi di sektor perhotelan hanya di angka 35% saja pada 2020 silam. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni pada 2019, tingkat okupansi berkurang 20%.


Keadaan sulit tersebut tentunya tidak mudah bagi para pelaku industri pariwisata. Tidak sedikit yang berusaha untuk memodifikasi layanan yang ditawarkan untuk bisa memenuhi protokol kesehatan agar dapat membantu pemerintah Indonesia menekan laju penyebaran COVID-19. Harapannya, berbagai upaya tersebut bisa menghasilkan perputaran transaksi yang signifikan, sehingga para pelaku industri pariwisata tidak harus berujung pada kebangkrutan.


Digitiket, startup binaan Indigo Creative Nation batch 1-2020 yang menyediakan online-ticketing platform pun menjadi salah satu startup yang terdampak pandemi COVID-19. Untuk itu, Digitiket berusaha menghadirkan solusi wisata yang aman untuk dicoba para wisatawan dan tetap membantu menekan laju penyebaran COVID-19 melalui berbagai penawaran virtual tour yang tersedia pada platform-nya.



Ada banyak sekali tema wisata dari virtual tour yang ditawarkan Digitiket, baik dari dalam maupun luar negeri—seperti 1000 Museum, Suku Baduy, Labuan Bajo, Geopark Kaldera Toba, Negeri Kanguru, Seoul, Tanah Suci Saudi Arabia, hingga Kerajaan Mesir.


Virtual tour ini juga dipandu oleh tour guide yang membantu menjelaskan berbagai macam hal yang ada pada destinasi wisata, persis seperti saat kita melakukan perjalanan wisata secara langsung. Hanya saja kali ini kita tidak berada di lokasi secara langsung, melainkan disuguhkan keindahan destinasi wisata tersebut melalui konferensi video yang dilengkapi dengan pembawa acara dan tour guide tersebut.


Digitiket pun tidak hanya menyediakan virtual tour yang diperuntukan bagi umum saja, namun juga untuk keperluan kunjungan edukasi siswa-siswi—mulai dari untuk siswa-siswi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang membutuhkan kunjungan industri ke pabrik makanan, industri otomotif, industri elektronik, industri garmen dan lain sebagainya.


Solusi kunjungan industri dalam bentuk virtual tour yang ditawarkan Digitiket ini pun banyak membantu berbagai pihak. Siswa-siswi jadi bisa mendapatkan wawasan dan informasi atas kunjungan, pihak sekolah juga tidak perlu khawatir akan kemungkinan anak didiknya terpapar COVID-19, dan pihak perusahaan yang dituju pun tetap bisa berbagi informasi dengan tenang tanpa perlu takut melahirkan cluster baru yang memungkinkan adanya paparan COVID-19 kepada pegawainya.