Mendekati penghujung tahun 2016, dunia startup terutama di Indonesia telah mengalami banyak perubahan dan dinamika di berbagai sektor. Tak hanya itu saja, startup yang awalnya hanya dikenal sebagai usaha yang berbasis teknologi dan di jalankan dengan aplikasi, kini tak hanya bergumul di bidang yang itu-itu saja. Begitu banyak perkembangan yang terjadi pada sebuah e-commerce sepanjang tahun ini. Apa saja kah itu? Disadari atau tidak, ya? Yuk kita simak.

Perhatian dari pemerintah 

Tahun ini merupakan saat yang spesial bagi para pelaku e-commerce di tanah air, karena kini mereka telah mendapat dukungan resmi dari pemerintah dalam bentuk Roadmap E-Commerce. Dalam Roadmap tersebut, pemerintah pun menyinggung tentang penggunaan dana universal service obligation (USO) untuk pendanaan startup, sampai pembuatan program inkubator dan kesetaraan pajak. Di tahun 2016 ini pula, Asosiasi E-Commerce Indonesia (IdEA) akhirnya berhasil mengadakan sebuah perayaan yang bertajuk Indonesia E-Commerce Summit & Expo (IESE). Presiden Joko Widodo pun langsung membuka acara tersebut sebagai cara dalam menunjukkan dukungannya. Berbagai hal tersebut menunjukkan betapa pemerintah Indonesia kini memperhatikan sektor bisnis digital ini.

Pendanaan yang tersedia 

Dukungan pemerintah untuk bisnis e-commerce pun bukan semata-mata tanpa alasan. Sepanjang tahun 2016, beberapa pelaku e-commerce masih terus mendapatkan pendanaan dalam jumlah yang tidak sedikit. Investasi-investasi tersebut seperti menjadi penanda kalau bisnis ini masih dianggap begitu menjanjikan dan pantas diperhitungkan. Pendanaan terbesar yang terungkap pada tahun ini didapat oleh Tokopedia, yang berhasil mendapat dana segar sebesar US$147 juta atau sekitar Rp1,9 triliun. Tambahan sumber daya ini akhirnya mengantarkan startup yang dipimpin oleh William Tanuwijaya tersebut mendapatkan lebih dari satu juta pedagang, dan memfasilitasi transaksi dengan total nominal triliunan rupiah. Tak hanya terjadi Tokopedia, beberapa nama e-commerce besar lain pun ikut mendapat pendanaan di tahun 2016. Mulai dari Blanja yang mendapatkan US$25 juta atau sekitar Rp333 miliar dari Telkom dan eBay, MatahariMall yang juga meraih US$100 juta atau sekitar Rp1,3 triliun dari Mitsui, serta Jualo yang sukses mendapat pendanaan Seri A senilai puluhan miliar rupiah. Selain dari pada itu, ada juga nama-nama seperti e-commerce perhiasan Orori, situs penjualan furnitur Fabelio, hingga toko online untuk produk romantis dan e-commerce kecantikan Asmaraku, yang turut mendapat pendanaan di tahun 2016 ini.

Perkembangan layanan pendukung e-commerce 

Kemajuan para pemain e-commerce di tanah air pun diikuti oleh bisnis-bisnis layanan lain yang mendukungnya, seperti logistik dan pembayaran. Contohnya, berkat inovasi yang terus dilakukan untuk menghadirkan layanan konsultasi hingga logistik bagi e-commerce Indonesia, aCommerce pun berhasil meraih dana segar sebesar US$10 juta atau sekitar Rp130 miliar. Khusus untuk bisnis logistik, pada tahun 2016 ini Indonesia juga kedatangan pemain baru seperti NinjaXpress. Di ranah bidang layanan pembayaran, tahun ini mulai muncul beberapa sistem pembayaran baru seperti metode pemberian cicilan tanpa kartu kredit yang dihadirkan Kredivo dan Cicil. Kedua startup tersebut bahkan telah meraih pendanaan di tahun 2016 ini. Salah satu pemain besar di bidang payment gateway untuk e-commerce yaitu Veritrans, bahkan sampai harus merubah nama mereka menjadi Midtrans pada tahun ini karena telah begitu banyaknya layanan yang mereka sajikan. Unsur pendukung e-commerce lain yang turut mencuri perhatian adalah bisnis situs pembanding harga. Pricebook dan Priceza, dua situs perbandingan harga yang beroperasi di tanah air, sama-sama mendapat investasi diwaktu yang berdekatan pada bulan September 2016 lalu.

Raksasa e-commerce dari luar negeri

Akhir-akhir ini, mulai banyak konglomerat tanah air yang turut menyemarakkan dunia e-commerce, mulai dari Djarum, Lippo Group, hingga MNC Group. Tahun ini MAP pun resmi meluncurkan situs e-commerce yang bernama MAPeMall. Tapi ternyata tak hanya para konglomerat asal Indonesia yang mempunyai minat tersebut. Tahun 2016 ini, dunia e-commerce Indonesia pun kedatangan e-commerce raksasa asal Cina, Alibaba. Perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma tersebut hadir di tanah air setelah mengakuisisi Lazada dari Rocket Internet. Kehadiran Alibaba bahkan disebut-sebut akan diikuti oleh pesaing besar mereka asal Amerika Serikat, yaitu Amazon. Meski begitu, sampai saat ini belum ada kepastian kapan perusahaan milik Jeff Bezos tersebut akan memijakkan kaki di tanah air.

E-commerce baru dengan pasar yang spesifik 

Meski sudah dipenuhi cukup banyak pemain, saat ini dunia e-commerce di Indonesia masih terus memunculkan nama-nama baru sepanjang tahun 2016. Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, hampir tidak ada e-commerce baru yang mencoba untuk menjadi platform yang menjual semua barang. Saat ini, pendatang baru tersebut justru mencoba bermain di ranah yang lebih spesifik alias niche. Contohnya adalah Maxuri yang berusaha eksis di bisnis barang mewah, Kravasia yang hanya menjual produk batik, serta Kreasi2Shop yang fokus di penjualan produk rumah tangga dan bayi. Selain dari pada itu juga ada Kriya dan Webemall yang merupakan situs khusus produk kerajinan tangan produksi UKM tanah air, serta Rangkaian yang merupakan marketplace untuk membeli bunga.

Banyak waktu diskon 

Menjelang akhir tahun, para pelaku e-commerce Indonesia kompak membuat sebuah hari diskon yang bernama Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) tepat pada tanggal 12 hingga 14 Desember 2016 lalu. Meski sempat mengalami berbagai isu tidak sedap, keberadaan pesta diskon ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan transaksi e-commerce yang saat ini baru menguasai sekitar satu persen dari total transaksi retail. Selain Harbolnas, e-commerce juga berkali-kali memanfaatkan momen lain untuk mengadakan pesta diskon. Contohnya Mayday Madness saat tanggal 1 Mei 2016 silam, Hari Belanja Online Ramadhan (Harboldan) menyambut bulan suci umat muslim, hingga menyelenggarakan Jakarta Great Online Sale dalam rangka ulang tahun kota Jakarta.