150 negara telah resmi terinfeksi serangan Cyber Global Ransomware WannaCry. Hal ini membuat Badan Kemananan Nasional AS mendapatkan gelombang kritik dari seluruh lapisan masyarakat.

Faktor utama yang memungkinkan serangan Ransomware WannaCry adalah cacatnya OS Windows buatan Microsoft yang digunakan oleh NSA untuk mengembangkan alat peretas yang digunakan oleh institusi tersebut. Sayangnya alat tersebut berakhir di tangan kelompok misterius bernama Shadow Brokers.

Pemerintah Amerika pada Minggu (14/5/17) mendapatkan kritik tajam dari Presiden Microsoft Corp Brad atas tindakannya menimbun celah kelemahan perangkat lunak untuk kemudian digunakan dengan caranya sendiri yang seringkali tak bisa dijamin kemanannya. Ia pun mencontohkan bocornya alat peretas milik NSA dan CIA baru-baru ini.

Raksasa teknologi seperti Google dan Facebook pun menolak berkomentar terkait merajalelanya virus Ransomware WannaCry. Sedangkan beberapa petinggi di dunia teknologi menyebutkan bahwa adanya kejadian seperti ini seolah mencerminkan pandangan Silicon Valley bahwa Pemerintah AS terlalu mengabaikan pentingnya keamanan internet demi keinginan untuk meningkatkan kemampuan cyber. Pihak NSA sendiri tidak merespons ketika diminta untuk berkomentar terhadap kasus ini.

NSA juga penyedia informasi teknologi lainnya secara umum juga memiliki keinginan untuk menyeimbangkan pengungkapan cacat pada perangkat lunak yang mereka temukan agar tidak menjadi rahasia yang berpotensi disalahgunakan untuk tujuan spionasi dan perang cyber.