Sektor financial technology (fintech) saat ini tengah banyak dikembangkan. Bukan hanya oleh perusahaan-perusahaan besar, para pengusaha startup terus menciptakan inovasi di industri keuangan. Payfazz adalah salah satu startup yang menekuni sektor ini dengan mengembangkan aplikasi dompet digital khusus untuk masyarakat yang tinggal di luar kota besar. Menyadari bahwa banyak masyarakat Indonesia yang tidak tersentuh oleh dunia perbankan, startup yang telah bergabung bersama Indigo, the best Indonesian incubator, ingin membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya digitalisasi di sektor finansial.

Baca juga: Sudah Dapat Bantuan Dana dari Startup Investor, Ini Alasan Perusahaan Startup Tetap Gagal

Payfazz didirikan oleh Hendra Kwik, Jefriyanto Guang, dan Ricky Winata. Ketiga orang asal Jambi tersebut memiliki latar belakang yang lebih dari cukup untuk mendirikan startup-nya sendiri. Hendra merupakan lulusan Teknik Kimia ITB, sementara Jefriyanto dan Ricky merupakan sama-sama lulusan jurusan Ilmu Komputer Binus. Mereka bertiga juga sempat mendapatkan pengalaman bekerja di perusahaan ternama seperti Kudo, Tiket.com, dan Traveloka.

Dengan pengalaman tersebut dan fakta bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak memiliki rekening bank, berdirilah Payfazz. “Ide dasar pengembangan Payfazz datang dari fenomena Indonesia, berdasarkan data Bank Dunia hanya 36% masyarakat Indonesia yang mempunyai rekening bank, dan hanya 4% masyarakat Indonesia yang mengenal dan menggunakan kartu kredit. Terdapat lebih dari 170 juta masyarakat Indonesia yang pengetahuannya mengenai teknologi keuangan sangat minim,” ujar Hendra Kwik, Co-Founder & CEO Payfazz.

Selain mengembangkan aplikasi dompet digital, Payfazz juga berperan dalam menyerap tenaga kerja dari daerah. Agar bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja, terdapat jaringan agen yang juga berperan mendorong perkembangannya. Melalui aplikasi ini, para pengguna bisa melakukan isi ulang (top up) lewat para agen tersebut, lalu menggunakan saldo di Payfazz untuk membeli pulsa, membayar tagihan, serta mengirimkannya ke pengguna lain.

Baca juga; Kenapa Riset Pasar Harus Dilakukan Startup Indonesia?

Saat ini, Payfazz melayani sekitar 25 ribu hingga 40 ribu transaksi perhari dengan nominal transaksi sekitar Rp26 ribu hingga Rp52 ribu, Hendra berharap bisa mendapat 20% pendapatan dari layanan pembayaran, 20% dari transfer uang, serta 30% dari pemberian pinjaman.

Dengan ide dan inovasi yang telah dikembangkan ini, Payfazz telah mendapatkan bantuan dana dari startup investor, salah satunya Y Combinator. Payfazz juga telah menimba ilmu dan pengalaman dari berbagai program yang mereka ikuti selama bergabung dengan Indigo. Kini, mereka telah menjadi inspirasi bagi digital community Indonesia untuk bisa membangun sebuah startup yang bisa memberikan manfaat kepada masyarakat luas.

Yuk, ikuti jejak Payfazz dan bergabunglah bersama Indigo!