Sebuah startup yang berasal dari digital community Indonesia memiliki kesan individualis karena menjalankan sebuah bisnis yang berakar dari ide segelintir orang. Namun, Angon, startup yang didirikan Agif Arianto, memberikan pandangan lain. Melalui perusahaannya ini, Agif melibatkan banyak pihak untuk menjalankan usahanya. Bagaimana caranya?

Angon merupakan sebuah perusahaan berbasis aplikasi yang bertujuan untuk mengembangkan industri peternakan Indonesia. Agif sendiri mengaku bahwa konsep Angon, “Tidak jauh berbeda dengan Tamagochi.” Ya, Tamagochi, mainan tahun 90-an yang mengharuskan para pemainnya untuk mengurus hewan peliharaan virtual. Melalui aplikasi Angon, para pemilik hewan ternak memegang peranan penting dalam mengurus hewan tersebut. Bedanya, jika Tamagochi hanyalah mainan anak-anak, Angon menawarkan Return of Investment (RoI) hingga 10% dalam tiga bulan.

Baca juga: Printerous Umumkan Raih Pendanaan Pra-Seri A Sebesar Rp18 Miliar

Siapa saja yang terlibat dalam Angon?

Dalam menjalankan bisnisnya ini, Agif bekerjasama dengan berbagai pihak. Angon memiliki empat pilar utama dalam menjalankan bisnisnya, yaitu Member, Investor Kandang, Peternak Rakyat, dan Mitra Bisnis. Keempat pilar tersebut memiliki peran masing-masing yang mendukung kinerja Angon.

Dengan menjadi Member, kamu bisa membeli hewan ternak, baik itu kambing maupun sapi, untuk kemudian membayar biaya perawatan selama tiga bulan agar hewan ternakmu lebih sehat dan berkualitas. Investor Kandang artinya kamu akan bekerja sama dengan Peternak Rakyat dalam hal menyediakan lahan dan kandang untuk hewan ternak. Dalam hal ini, pemeliharaan hewan ternak dilakukan oleh Peternak rakyat. Untuk kamu yang ingin menjadi Mitra Bisnis, bersiaplah untuk menerima hasil ternak dari yang merupakan hasil kerjasama Member, Investor Kandang, dan Peternak Rakyat.

Baca juga: Authentic Guards: Sang Pahlawan di tengah Maraknya Pemalsuan

Konsep Angon dalam melibatkan peternak di daerah, pembuat kandang, dan masyarakat umum merupakan contoh yang unik bagi startup lain yang langsung “menjual” produknya kepada konsumen, baik perorangan maupun perusahaan. Angon, di sisi lain, membuat sebuah sistem yang melibatkan dan tentunya menguntungkan banyak pihak. Dengan sistem seperti itu, Angon telah menjadi inspirasi bagi orang-orang di digital community Indonesia yang ingin membangun sebuah perusahaan startup.

Selain sistem yang melibatkan banyak pihak, Angon juga menunjukkan hal lain yang patut dicontoh oleh para pengusaha startup lainnya. Meski telah didukung oleh pengalaman Agif yang pernah terjun sebagai peternak, Ia dan Angon tetap bersemangat bergabung dengan Indigo sebagai the best Indonesian incubator untuk menimba ilmu lebih banyak lagi. Hal ini menunjukkan bahwa Agif masih ingin terus belajar dari mentor-mentor Indigo dan menjalin kerjasama dengan pihak-pihak yang ada di Telkom Group. Dengan ilmu yang didapat selama mengikuti berbagai program inkubasi dan akselerasi di Indigo, Agif juga tentunya berharap bisa mengaplikasikan ilmu tersebut ke perusahaan yang dibangunnya. Bukan tidak mungkin, pengembangan perusahaan akan mendatangkan startup investor yang bisa meningkatkan performa Angon.

Pantau terus media sosial kami untuk update terbaru mengenai program yang dijalankan Indigo ya!