Bursa saham Hong Kong (SHEK) sedang mempertimbangkan pembuatan dewan baru yang melayani para startup. Tim oprasional SHEK, Hong Kong Exchanges and Clearing (HKEX), telah merilis sebuah proposal yang merinci struktur para dewan, pengurus, dan stake holdernya pada Jumat lalu.

Baca Juga: Untuk Mudahkan Pemasaran Digital di Bisnis, Kofera Munculkan Pra-Seri A yang Dipimpin MDI Ventures

Dilansir dari Reuters, garis besar utama program ini adalah membuka memungkinkan perusahaan dengan struktur saham, mendapakan hak voting khusus yang selama ini tidak mempengaruhi peningkatan dalam data terdaftar. Jika proposal disetujui, maka para dewan direksi, dan stake holder bisa diluncurkan di awal tahun 2018.

Menurut laporan tersebut, perusahaan China seperti Alibaba dan Baidu, yang sebelumnya telah terdaftar di bursa saham New York (NYSE), dapat kesempatan juga untuk ke dewan direksi dan masuk daftar sekunder. Meskipun demikian, skenario ini terlalu optimis karena perusahaan-perusahaan ini tidak akan mengalami valuasi atau aktivitas perdagangan yang tinggi. Untuk perusahaan teknologi asal China yang lebih kecil dan dengan valuasi lebih rendah dapat segera mendaftarkan dori ke SHEK untuk IPO.

Baca Juga: Tinggalkan Berrybenka, Danu Wicaksana Beralih ke Telkomsel

Sesungguhnya, SHEK bukanlah satu-satunya bursa efek berbasis Asia yang akan menilik daftar perusahaan berbasis teknologi. Tahun lalu, Thailand mengumumkan akan meluncurkan bursa saham hanya untuk startup. Bursa saham ini memungkinkan startup masuk dalam daftar peserta saham meskipun mereka belum memperoleh pemasukan. Mereka dapat memilih untuk menerbitkan produk ekuitas dan non-ekuitas termasuk obligasi dan opsi, namun investasinya mungkin terbatas pada investor yang terakreditasi.