Bagi pecinta buku tentu ada yang mengalami kegundahan karena teknologi nyaris mengurangi popularitas buku sehingga beberapa toko buku dan display buku sepertinya berkurang, hal ini juga menjadi kegundahan bagi Ardianto Agung dan Dewi Fita.

Baca Juga: PandawaCare, Aplikasi KPAI Untuk Perlindungan Anak

Dilatarbelakangi oleh kegundahan itu pula, Ardianto dan Dewi yang sebelumnya telah memiliki Penerbit Rak Buku kemudian memutuskan untuk mendirikan Bookslife. Bookslife hadir dengan platform digital dan bisa menjadi solusi bagi pecinta buku yang merasa bahwa buku fisik memiliki harga yang cukup mahal.

Dengan perencanaan yang cukup matang pada tahun 2016 lalu, Bookslife telah resmi hadir per 20 Mei 2017. Bookslife merupakan platform penerbitan digital, yang memungkinkan pembaca untuk membeli e-book dalam beberapa bagian. Startup ini juga membantu para penulis dengan memfasilitasi proses pengeditan, pembuatan layout, hingga pembuatan desain cover.

Bisa disimpulkan bahwa tak hanya bagi pembaca, namun BookLife juga berniat untuk memberikan jalan bagi para penulis yang mulai merasa ragu-ragu karena sulitnya menerbitkan karya dari penerbit besar. Bookslife juga cukup menjanjikan bagi para penulis karena agar pembaca membeli karya para penulis, Bookslife menjual buku-buku tersebut dalam bentuk part atau bagian. Dengan cara ini, tidak hanya menguntungkan pihak penulis namun juga pihak pembaca karena harga jual buku jadi lebih murah dan terjangkau.

Baca Juga: Persiapkan Dirimu Untuk Hackathon IoT 2017 Mendatang!

Untuk tiap buku yang terjual, penulis akan memperoleh royalti sebesar empat puluh persen, dan untuk Bookslife mendapatkan enam puluh persen dari keuntungan yang didapat. Ardianto juga menuturkan bahwa sejauh ini sudah ada sekitar seratus penulis yang ikut bergabung bersama platform Bookslife sejak platform ini pertama kali diluncurkan, dan mereka telah memfasilitasi lebih dari tiga puluh transaksi yang berlangsung.

Menariknya lagi, Bookslife membuat sistem pembayarannya sendiri yang disebut dengan Bookslife Wallet. Ardianto menceritakan bahwa, karena harga buku yang ditawarkannya terbilang murah maka pihaknya perlu membuat sistem wallet-nya sendiri karena tidak mudah mendapatkan payment gateway yang bersedia mengakomodasi.