Salah satu faktor yang menyebabkan orang tidak berani menjadi pengusaha adalah tingginya risiko kegagalan atau kerugian yang bisa terjadi kapan saja. Namun, Rian yang pernah mengalami kerugian besar sebagai pengusaha justru menjadikan pengalamannya itu untuk bergabung dengan digital community Indonesia dan mendirikan sebuah startup.

Baca juga: Avenger of The Week: Privy ID, Fokus Menyediakan Layanan Digital Signature dan Translate Identity

Seperti apa kisahnya?

Rian memiliki passion di bidang fashion. Melihat peluang bisnis yang cukup besar di industri tersebut, Rian pun memberanikan diri membuat sebuah brand fashion sendiri. Namun, usahanya tersebut tidak berjalan mulus. Banyaknya pemalsuan yang dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab terhadap hasil karyanya membuat ia mengalami kerugian. Dari pengalamannya tersebut, Rian mulai memikirkan sebuah cara untuk melindungi produknya dari pemalsuan.

“Saya terus berusaha memikirkan sebuah sistem yang bisa mengakomodasi kebutuhan pengusaha seperti saya, hingga akhirnya tercetuslah ide mendirikan Authentic Guards ini. Pada awalnya, Authentic Guards kesulitan berkembang karena saya bekerja sendiri. Akhir 2016, saya bertemu rekan kerja saya sekarang, Muqsith, dan dia tertarik dengan ide saya itu. Kami kemudian sama-sama berkomitmen untuk mengembangkan Authentic Guards hingga sekarang,” ujar Rian mengisahkan awal berdirinya Authentic Guards.

Baru resmi berdiri sejak April 2017, Rian dan Muqsith memiliki target besar untuk startup yang mereka rintis. Setelah melakukan riset kecil-kecilan, mereka tidak menemukan perusahaan lain di kawasan Asia Pasifik yang memiliki produk yang serupa dengan Authentic Guards. Ketiadaan Kompetitor head-to-head ini kemudian mereka coba manfaatkan untuk memosisikan diri sebagai perusahaan satu-satunya di Asia Pasifik yang menyediakan layanan berbasis teknologi yang mampu menghindarkan produk kliennya dari pemalsuan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Authentic Guards telah diikutsertakan dalam berbagai kompetisi startup. Muqsith bercerita, “Kami pernah ikut kompetisi Echelon Asia di Singapura dan berhasil masuk Top 100 Startup Asia Pacific mewakili Indonesia. Di Bali, kami juga terpilih menjadi finalis di Global Venture Summit. Setelah mengikuti berbagai kompetisi dan selalu menjadi finalis, kami merasa terpacu untuk terus mengembangkan produk kami berupa software as a service untuk klien kami.”

Selain mencoba mengembangkan Authentic Guards dengan mengikuti berbagai kompetisi, Rian dan Muqsith juga telah bergabung dengan Indigo untuk menggali ilmu yang lebih banyak lagi. Muqsith mengakui bahwa dalam waktu singkat sejak bergabung dengan program inkubasi dan akselerasi Indigo sebagai the best Indonesian incubator, Authentic Guards telah mendapatkan banyak ilmu yang berguna, terutama dari sisi mentoring dan networking yang ditawarkan.

Baca juga: Kini Situs Goers Bisa Digunakan untuk Browsing Event

Patut diakui, kedua hal tersebut memang secara langsung mendekatkan para pengusaha startup kepada para startup investor. Apalagi, Indigo dinaungi Telkom Group yang memiliki banyak anak perusahaan yang mampu mendanai startup yang memiliki ide brilian. Sepertinya, kegagalan yang dialami Rian sebagai pengusaha di bidang fashion merupakan sebuah berkah tersendiri. Hal tersebut ternyata membawanya terjun ke digital community Indonesia hingga akhirnya mendirikan sebuah startup yang menawarkan solusi bagi banyak pihak. Kini, Rian dan Muqsith tinggal terus mengasah kemampuan bisnisnya agar Authentic Guards bisa secepatnya melakukan scaling ke kawasan Asia Pasifik.

Punya ide brilian seperti Rian? Kirim proposalmu ke Indigo ya!