Saat ini aplikasi over the top atau yang biasa disingkat OTT sudah bukan lagi hal yang asing bagi masyarakat domestik dan mancanegara. Terus terang saja, semakin lama kita semakin terbiasa dengan keberadaan OTT tersebut. Aplikasi populer seperti Gojek, Uber, hingga pesan instan WhatsApp, telah mendorong masyarakat Indonesia sampai lapisan terbawah menjadi tak terpisahkan dari penggunaan paket internet dan data. Dimitri Mahayana, Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision mengatakan, dua kali survei bertemakan “Digital Lifestyle & eChannel” yang dilakukan pihaknya sepanjang tahun ini menemukan betapa dekatnya aplikasi OTT di kehidupan masyarakat Indonesia.

Namun, ternyata masih ada beberapa dari kita yang belum mengerti apa itu OTT. Jadi, OTT merupakan layanan dengan konten berupa data, informasi atau multimedia yang berjalan melalui jaringan internet. OTT juga bisa dikatakan layanan yang “menumpang”. Mengapa demikian? Alasannya ialah karena sifatnya yang beroperasi di atas jaringan internet milik sebuah operator telekomunikasi. Beberapa contoh perusahaan yang beroperasi di aplikasi OTT yaitu Facebook, Twitter, Youtube, Viber, dan sebagainya.

Meskipun aplikasi OTT itu sendiri masih menuai banyak kontroversi bagi perusahaan telekomunikasi di Indonesia, namun pada kenyataannya aplikasi ini justru memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan industri telematika Indonesia. Hal ini terbukti dari angka penggunaan gadget terbanyak, terutama ponsel cerdas untuk chatting sebesar 76,2 persen, browsing 62,9 persen, serta media sosial 59,4 persen, sehingga aplikasi menjadi bagian dari keseharian.

“Data kami juga menunjukkan pertumbuhan pendapatan total rata-rata operator cenderung linear sejak 2008 lalu. Persentase kenaikannya cuma 1,65 persen dari tahun ke tahun (YOY/Year Over Year), itu pun disokong pendapatan data dari OTT. Pengguna jasa operator seluler sudah melebihi penduduk Indonesia, jadi sudah sulit tumbuh lagi. Bisnisnya sulit berkembang karena ada perang tarif," kata Dimitri.

Di sisi lain, meskipun pendapatan rata-rata OTT memang belum sebesar operator telekomunikasi, tetapi pertumbuhannya mengalami peningkatan beberapa kali lipat. Persentase kenaikannya mencapai 24,4 persen YOY sejak 2008 lalu. Dimitri menambahkan, "OTT pertumbuhannya dari tahun ke tahun bisa melejit padahal belum maksimal garap pasar. Apalagi seperti Google yang layanannya banyak dan dipakai orang. Jadi mereka masih terus tumbuh.”