Perkembangan yang pesat di dunia teknologi dan informasi memang menjadi salah satu faktor meluasnya pertumbuhan startup Indonesia. Di satu sisi hal ini merupakan sinyal positif yang menunjukkan bahwa digital community Indonesia mampu memanfaatkan keahlian dan pengetahuannya untuk membuka usaha sendiri, bahkan memberikan lapangan kerja kepada masyarakat. Di sisi lain, banyaknya orang yang terjun ke dunia bisnis dengan mendirikan startup membuat persaingan semakin ketat. Di antara celah sempit antara keuntungan dan kerugian pesatnya pertumbuhan dunia teknologi dan informasi di Indonesia, Resha melihat sebuah peluang usaha.

Resha adalah CEO dari Loraid, startup yang fokus pada pengembangan hardware IoT alias perangkat keras berbasis Internet of Things. Berawal dari sebuah proyek yang mengharuskan Resha dan kawan-kawan membuat sebuah alat yang mampu mendeteksi para pelari maraton yang pertama kali melewati garis start, kini Loraid menyanggupi berbagai macam permintaan pembuatan hardware yang berhubungan dengan management system, security system, dan lainnya.

“Proyek-proyek itu menggunakan sistem yang serupa, hanya perlu dilakukan setting ulang sesuai kebutuhan,” ujar Resha menjelaskan alat ciptaannya.

Loraid sendiri merupakan singkatan dari Long Range Identification System. Dengan kata lain, produk utama dari startup ini adalah alat pendeteksi jarak jauh. Dikutip dari situs loraid.com, saat ini Loraid memiliki 6 jenis layanan yang semuanya menggunakan dasar hardware yang sama, yaitu:

  1. Presensi: Mendeteksi kehadiran seseorang pada jam kantor dan event khusus (rapat, seminar, training, dan pertemuan penting lainnya) tanpa ada aksi apapun dari pengguna sistem.
  2. Marathon: Mampu mendeteksi hingga 200 tag/detik yang sangat bermanfaat ketika digunakan sebagai sistem pendeteksi start dan finish peserta marathon.
  3. Keamanan: Pengamanan kawasan untuk memastikan hanya orang tertentu yang berhak berada di suatu kawasan. Loraid dapat dipasang di pintu, gerbang, ataupun sekadar mengawasi pergerakan orang.
  4. Rumah Sakit: Mampu mengidentifikasi pasien atau bayi agar terawasi dana man selama berada di rumah sakit.
  5. Inventori: Mampu mengidentifikasi pergerakan barang/inventaris kantor yang dapat diintegrasikan dengan sistem yang sudah diaplikasikan di perusahaan pengguna.
  6. Konser: Loraid memberikan solusi efektif dalam mengurai antrian dan identifikasi pengunjung acara yang didatangi ratusan atau bahkan ribuan orang.

Berdiri sejak Maret 2016, Resha dan rekan-rekannya di Loraid sudah merasakan berbagai suka dan duka. Sebagai orang yang memang menekuni dunia hardware, Resha merasa senang karena bisa bertemu, membangun bisnis bersama orang-orang yang memiliki minat yang sama.

“Dukanya adalah kesulitan mendapatkan human resources. Karena loraid bermain dengan hardware IoT, kami membutuhkan teman-teman untuk instalasi dan perawatan, tidak bisa seperti startup yang mengembangkan software,” lanjut Resha.

Meskpun berstatus sebagai “anak baru” bagi para startup investor, Loraid bertekad menjadi pengembang perangkat keras IT terdepan di Indonesia. Hal itu juga menjadi pendorong Loraid untuk bergabung dengan Indigo, the best incubator in Indonesia. Resha berharap, dengan bergabungnya Loraid dengan Indigo, dia dan rekan-rekannya mampu memperluas jaringan hingga akhirnya memperoleh peluang untuk bekerja sama dengan digital community Indonesia lainnya. Selain itu, Resha juga berharap mendapatkan ilmu dari para mentor agar startup yang ia bangun menjadi lebih terarah. Resha percaya diri, dengan bergabung bersama Indigo, Loraid akan mendapatkan banyak manfaat, tidak hanya dari sisi permodalan, tapi juga kesempatan-kesempatan lain untuk mengembangkan diri dan usahanya.

Tunggu apa lagi? Siapkan dirimu untuk merebut hati startup investor bersama Indigo!