Sempat diberitakan oleh TechCrunch pada 23 Februari 2017 lalu bahwa Zalora dikabarkan sedang bernegosiasi dalam rangka menjual sahamnya ke perusahaan ritel MAP. Kabar ini disangkal oleh CEO Zalora Group, Parker Gundersen, dalam pemberitaan yang dirilis oleh Tech in Asia (28/2).

“Indonesia bukanlah pasar yang ingin kami tinggalkan. Spekulasi kalau kami akan menutup layanan tidaklah benar,” ujar Gundersen. 

Zalora memang menggandeng MAP, yang mempunyai lisensi untuk mendistribusikan banyak merek fesyen internasional di tanah air, bukan untuk menjual saham Zalora ke MAP. 

Berita Zalora akan menjual perusahaannya ke perusahaan retail MAP ini bukan tanpa sebab. Di April tahun 2016 silam, Zalora telah menjual saham mereka di Thailand dan Vietnam, kepada konglomerat asal Thailand, Central Group. Dan belum lama dikabarkan bahwa Zalora juga telah menjual saham mereka di Filipina kepada konglomerat lokal, Ayala Group. 

Gundersen berujar bahwa apa yang mereka lakukan di Thailand dan Vietnam, memiliki visi dan misi yang berbeda.  

“Ayala memang memberikan investasi yang signifikan. Namun uang tersebut akan tetap di Filipina, sehingga itu bukan penjualan aset. Rocket Internet pun masih merupakan pemilik saham terbesar,” ujar Gundersen. 

Bagi Gundersen, meskipun Zalora bisa dikatakan bukan sebuah startup lagi, namun mengawali bisnis di Asia Tenggara adalah hal yang sulit, dan Zalora tengah berusaha keras untuk mencapai tujuan dari rencana bisnis yang telah mereka buat.