Pesatnya perkembangan teknologi informasi di seluruh penjuru dunia merupakan hal yang sangat bermanfaat, tidak terkecuali bagi digital community Indonesia. Namun, hal ini juga menimbulkan beberapa efek negatif, terutama bagi anak. Paparan berlebihan pada layar gawai memberikan pengaruh buruk pada proses tumbuh-kembang anak. Beberapa penelitian bahkan menyatakan bahwa anak yang terlalu sering menatap layar akan mengalami gangguan otak, kerusakan mata, juga memengaruhi mereka secara psikis.

Muhamad Nur Awaludin bersama Kakatu sebagai bagian dari digital community Indonesia memiliki solusi terhadap hal ini. Kakatu merupakan aplikasi yang bertugas sebagai parental control dengan menyeleksi, membatasi, dan mengawasi aplikasi apa saja yang boleh diakses anak. Dengan begitu, buah hati tercinta tetap dapat menikmati kecanggihan teknologi informasi, tapi penggunaannya tetap terukur dan terawasi. Meluncur sejak September 2014, hingga kini Kakatu telah membantu lebih dari 200.000 orangtua dalam mengawasi perkembangan anaknya.

Meski terdengar cukup sukses, Muhamad Nur Awaludin atau yang lebih akrab dikenal sebagai Mumu sempat mengalami kesulitan dalam membangun fondasi yang kuat. Sebagai Co-Founder sekaligus CEO Kakatu, Mumu mengakui bahwa, “semua founder Kakatu tidak ada yang mempunyai background bisnis atau concern dalam hal business development.” ujar Mumu. Lebih lanjut, Mumu menceritakan bahwa semua orang yang terlibat dalam membuat aplikasi ini memiliki latar belakang yang sama yaitu teknik informatika. “Jadi ketika membangun produk ini, kami selalu lebih fokus pada sisi produk dan teknologinya saja sementara sisi bisnisnya tidak terlalu diperhatikan.” lanjutnya.

Beratnya masa-masa awal mendirikan Kakatu akhirnya berujung manis. Setelah melewati berbagai macam tantangan dan mengalami beragam kegagalan, para Founder Kakatu menyadari bahwa semua hal yang telah dilalui menuntun Kakatu ke arah yang lebih baik dari sisi teamwork dan produk itu sendiri.

Kegagalan umum yang juga dialami oleh ratusan bahkan ribuan pengusaha startup di seluruh dunia telah dialami Mumu dan kawan-kawan. Tapi, mereka tetap bersyukur karena telah berhasil melewati itu semua dan tetap bersama-sama.

“Kami sebagai tim masih bisa terus bersama dalam kondisi terendah, terpuruk, bahkan terburuk, baik dari sisi finansial maupun pekerjaan operasional sehari-hari. Mencari solusi bersama-sama dan bukannya lari dari masalah serta terus berinovasi hingga detik ini merupakan sebuah pencapaian bagi kami. Saat ini, tim sudah makin berkembang, makin dewasa, dan makin lengkap dengan orang-orang yang ahli di berbagai bidang dan bermuara pada pengembangan produk yang tanpa henti.” Mumu menjelaskan rasa syukurnya.

Demi mencapai visi untuk menciptakan generasi yang cerdas dan tangguh di era digital, Kakatu bergabung dengan Indigo, the best incubator in Indonesia. Selain itu, Mumu juga berharap kesempatan ini dapat membuka akses pasar yang lebih luas. Mumu berharap bahwa Kakatu bisa digunakan tidak hanya oleh end user atau masyarakat umum saja, tetapi juga bisa didukung oleh institusi pemerintah maupun korporasi swasta. Menghadapi persaingan ketat di hadapan para startup investor, Mumu beranggapan bahwa kini Kakatu siap memperluas jaringannya, tidak hanya untuk pasar B2C, tapi juga B2B.

Kini, usia Kakatu hampir menginjak tahun ketiga. Semakin solid, Mumu tetap memiliki mimpi untuk masa depan startup rintisannya. Ia berharap, “Kakatu benar-benar dapat menjadi sebuah kesatuan produk yang utuh, yang benar-benar dapat membantu menyelesaikan permasalahan di era digital pada anak-anak, dari hulu ke hilir, secara terukur. Kami menyediakan solusi. Kami menyediakan platformnya juga.”

Bukan sekadar harapan atau impian, kini Kakatu tengah merintis sebuah terobosan baru dengan “Kakatu School”. Produk ini mengajak para guru, orangtua, dan tenaga ahli seperti psikolog dan pembimbing konseling untuk berkolaborasi meminimalisasi dampak negatif dari penggunaan internet siswa/siswi sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik dalam menjelajahi dunia maya secara lebih terukur. Sistem ini sudah diimplementasikan di beberapa sekolah bahkan menjadi aplikasi resmi dalam program CSR Telkomsel yaitu internekBAIK 2017 yang akan diberlakukan di sekolah-sekolah terpilih di 15 kota di Indonesia.

Ayo dukung anak untuk melek teknologi sejak dini tanpa risiko terpapar konten negatif dari dunia maya!