Membangun perusahaan startup itu bukan sekadar urusan bisnis, lho. Muhammad Rezky Rahmansyah menyadari bahwa sebuah perusahaan startup harus melibatkan sebanyak mungkin pihak, termasuk akademisi dan komunitas, agar bisa memberikan manfaat sebanyak mungkin pula dan tentunya menarik hati para startup investor. Berawal dari keresahannya terhadap kurangnya sinergi antara dunia pendidikan dan industri bisnis, Rezky merintis Instan Indonesia (INSTANID), sebuah startup yang berfokus pada sektor informational repackaging.

Rezky menjelaskan, INSTANID mencoba mendapatkan perhatian para startup investor dengan membantu perusahaan dalam memperkaya informasi yang dibutuhkan dengan tujuan menghasilkan inovasi produk atau strategi pemasaran yang lebih baik. “Informasi yang kami berikan bisa berupa tren, survei, research, dan market kami gabungkan jadi satu untuk kemudian kami suguhkan ke perusahaan yang membutuhkan,” lanjut Rezky. 

Baca juga: Avenger of the Week: Kofera, Realisasi Semangat Inovasi di Digital Community Indonesia

Lalu, apa hubungannya dengan dunia akademik?

Rezky menyatakan bahwa data, penelitian, dan informasi yang diambil INSTANID berasal dari hasil penelitian para akademisi. INSTANID menjalin kerjasama dengan universitas-universitas agar hasil penelitian para mahasiswa bisa berguna bagi masyarakat, tidak sekadar dipajang di perpustakaan semata. “Kami memanfaatkan hasil penelitian para lulusan universitas dengan cara mengutip informasi yang kami butuhkan lalu kami gabungkan dengan survei, tren, berita, hingga media sosial untuk kemudian kami olah sesuai kebutuhan perusahaan,” ujar Rezky menjelaskan bentuk kerjasama INSTANID dengan universitas. 

Baca juga: “Startup Indonesia Lain Fokus di Software, Kami Mengembangkan Hardware.”

Bersama Indigo sebagai startup incubator Indonesia, Rezky berharap bisa mendapatkan ilmu dari para mentor. “Network yang kami dapatkan dan berbagai macam seminar dan pelatihan dari Indigo juga sangat bermanfaat bagi kami yang ingin meningkatkan sinergi 4 entitas, yaitu A, B, C, dan G, alias Academic, Business, Community, dan Government,” lanjut Rezky yang merupakan lulusan Ilmu Perpustakaan Informasi, Universitas Indonesia.

Yuk, ikuti jejak Rezky dan INSTANID dalam membangun bisnis yang melibatkan banyak pihak!