Di akhir Januari lalu, kabar mantan Kapolri Badrodin Haiti bergabung menjadi jajaran komisaris Grab, sebuah aplikasi penyedia transportasi di Indonesia, santer terdengar luas. Namun, baru beberapa minggu setelah kabar tersebut menyebar, dikutip dari situs Kumparan.com (16/2), Badrodin menyatakan batal bergabung dengan Grab dengan alasan etika.

Nampaknya, pihak Grab terlalu terburu-buru mengabarkan berita tersebut kepada media. Sebab, menurut Badrodin sendiri, secara tertulis ia belum menjadi komisaris Grab, saat itu ia dan pihak Grab baru melakukan diskusi saja. 

Mantan Kapolri yang menjabat hingga Juli 2016 lalu, masih menimbang-nimbang apakah etis jika ia menjabat sebagai komisaris di dua perusahaan yang berbeda. 

Ia menyebutkan bahwa sebelumnya ia sudah lebih dulu menjabat sebagai Komisaris Utama Waskita Karya. Meskipun tidak ada larangan untuk menjabat sebagai komisaris utama dari dua perusahaan yang berbeda, namun Badrodin menilai jika ia melakukan hal tersebut, tidak tepat secara etika. 

“Saya kan dari sisi ketentuan tidak ada larangan (menjabat dua komut), tapi dari sisi etika enggak tepat," ucap Badrodin, seperti yang dikutip dari Kumparan.com (16/2).