Perkembangan ekonomi digital di Indonesia terus menanjak. Pada 2020 nanti, diperkirakan nilainya akan mencapat 130 juta Dollar Amerika. Hal ini tentunya tidak bisa dipisahkan dari digital community Indonesia yang merupakan bagian dari 130 juta pengguna internet aktif di Indonesia. Lalu, sebesar apa pengaruh Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (SPNBE) ini untuk para pengusaha startup Indonesia?

Pada awal Agustus lalu, tepatnya 3 Agustus 2017, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna H. Laoly meresmikan Peraturan Presiden (Perpres) No. 74/2017 tentang Roadmap atau Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (SPNBE). Penandatanganan Perpres ini sebelumnya sudah ditetapkan dan ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 21 Juli 2017.

Menanggapi hal ini, dua pihak yang akan secara langsung merasakan pengaruh Perpres ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), mengungkapkan rasa syukurnya masing-masing. Dikutip dari detikINET, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menyampaikan, “Alhamdulillah. Saya ucapkan terima kasih kepada semua yang berpartisipasi, kementerian, lembaga, maupun player. idEA dan anggotanya itu berperan aktif dalam menyiapkan Perpres ini.”

Baca Juga : Apa sih Ukuran Keberhasilan sebuah Startup Indonesia?

Sementara itu, Ketua idEA Aulia E. Marinto, merasa lega karena Perpres ini adalah “sesuatu progress yang sudah dinanti-nanti.” Secara sistematis, Aulia, yang juga merupakan CEO dari Blanja.com, percaya bahwa Perpres ini akan memberikan manfaat bagi banyak pihak, tidak hanya para pelaku industri perdagangan digital saja. “Dampaknya, pembangunan dan perkembangan industri e-commerce memiliki arah yang jelas dan pada gilirannya diharapkan memacu inovasi dari pelaku industri,” katanya.

Berkaitan dengan hal tersebut, Menkominfo Rudiantara menyinggung efek positif yang akan dirasakan startup Indonesia dengan diresmikannya Perpres ini. “Roadmap disiapkan bersama-sama, bukan hanya [oleh] pemerintah tapi bersama-sama dengan player karenanya isinya, substansinya, banyak yang menyentuh atau meng-address isu di player. Startup contohnya, nanti pendanaannya bagaimana, nanti di situ ada kebijakan dari pemerintah dan disitu dituliskan kebijakan apa yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk address isu apa yang tujuh tadi, kemungkinan apa yang bertanggungjawab,” begitu Rudiantara menjelaskan secara singkat mengenai manfaat dari Perpres ini.

Pemerintah melalui Kemenkominfo bergerak cepat menindaklanjuti Perpres ini. Pada 22 Agustus 2017, Menkominfo Rudiantara berhasil membujuk orang terkaya di Asia, Jack Ma, yang juga merupakan pendiri e-commerce raksasa asal Tiongkok, Alibaba, untuk menjadi penasihat e-commerce Indonesia. Hal ini tentunya menjadi angin segar bagi para pelaku di industri e-commerce. Lalu, langkah apa yang akan dilakukan pemerintah untuk mengembangkan industri startup?

Apa pun langkah yang akan diambil pemerintah, banyak pihak yang harus diikutsertakan untuk bekerja sama membangun industri startup. Kemenkominfo, Kementerian Perdagangan, Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), dan lembaga pemerintah lainnya harus berdiskusi dengan pihak swasta yang berhubungan secara langsung dengan industri startup ini.

Baca Juga : Kenalkan Teknologi Informasi Kepada Anak Secara Aman

Industri e-commerce dan besarnya jumlah uang yang beredar di dalamnya memang menggiurkan. Tapi, inovasi, kreatifitas, dan ide solutif dari digital community Indonesia tidak berhenti di industri tersebut. Jika dikembangkan dengan baik, industri startup tidak hanya akan mendorong perekonomian digital Indonesia saja, tapi juga memberikan solusi berbasis teknologi yang dibutuhkan masyarakat secara luas.

Kamu punya Inovasi, kreatifitas, dan ide kreatif untuk mengatasi permasalahan di masyarakat? Kunjungi indigo.id untuk mengetahui apa yang bisa Indigo lakukan agar idemu bisa direalisasikan!