Biasanya marketer dan pemilik bisnis serta jajaran stake holder dalam bisnis, memiliki peran dengan porsinya masing-masing untuk berkecimpung bersama dalam sebuah bisnis. Salah satunya adalah kegiatan branding, untuk membangun perhatian masyarakat terhadap produk yang ditawarkan oleh bisnis. Pada saat membangun sebuah brand, tentunya pihak-pihak terkait di dalam bisnis telah mengusung berbagai ide dan filosofi mengenai brand tersebut.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan dalam membangun sebuah brand kemudian melakukan kegiatan pemasaran terhadap brand tersebut, hal itu adalah warna. Sebagai seorang marketer, tentunya paham betul strategi pemasaran yang tepat. Marketer juga harus mengetahui beberapa pengetahuan terkait dengan psikologi warna yang digunakan untuk branding. Mengapa demikian? Nah, berikut ini penjelasannya.

Baca juga: Tips Membangun SEO yang Sukses

1. Warna sebagai identitas

Dalam warna terdapat nyawa yang tak bisa dilihat secara kasat mata. Makna tersebut biasanya akrab disebut sebagai persepsi mikro, yang mana sebuah warna memiliki identitas yang menunjukkan sudut pandang tertentu dan menciptakan persepsi oleh yang melihat. Hal ini menjadi penting karena warna idealnya akan menyatu dengan gambar atau warna akan menciptakan arti yang menimbulkan esensi dari brand tersebut. Contohnya, bila produk merupakan produk herbal tentu akan menggunakan warna-warna cerah yang menciptakan kesan naturalis.

2. Makna dari warna yang mewakili branding 

Banyak yang tidak menyadari bahwa dalam melakukan branding produk, terdapat makna eksplisit yaitu adanya kesan penyampaian emosi. Contohnya bila produk menggunakan warna-warna yang cerah, mungkin bisa saja menyampaikan makna keceriaan dan produk tersebut tentu saja ditargetkan untuk anak-anak. Warna memang memiliki banyak arti serta makna yang tidak bisa didefinisikan secara tepat. Namun dengan penggunaan warna, brand tersebut akan memiliki arti yang kompleks, misalkan ditargetkan untuk siapa, digunakan dalam keadaan yang bagaimana, dan seterusnya.

3. Warna sebagai gender 

Jangan pernah salah mengidentitaskan sebuah produk dalam kegiatan branding. Saat produk diluncurkan tentunya ada target market yang menjadi tujuan, kepada siapa dan untuk siapa produk tersebut dibuat. Warna adalah sebagai identitas penyampaian gender. Bila produk ditujukan untuk pria, gunakan warna-warna yang identik dengan pria, dan begitu pula sebaliknya. Warna sebagai identitas gender ini bisa saja meluas menjadi warna yang mengidentitaskan kepribadian, karena baik pria maupun wanita tentu saja memiliki kepribadian yang berbeda. Bahkan dalam satu gender pun akan banyak identitas karakter yang bisa disampaikan melalui warna. Warna sebagai gender ini biasa terdapat di produk-produk estetika seperti parfume, produk-produk seperti sabun, dan lain-lainnya.

4. Kombinasi warna 

Dalam penggunaan warna sebaiknya diperhatikan pula kombinasinya. Karena memadupadankan warna, tidak hanya sekadar asal memadukan. Jika asal, bisa terjadi ketidakserasian dan akan merusak brand. Selain itu warna yang tidak memiliki kombinasi yang baik akan menghilangkan estetika dan esesnsi dari kegiatan branding. Maka, bila melakukan kegiatan branding dan bermain dengan warna, jangan sampai asal memilih warna. Perhatikan bila produk menggunakan latar belakang gelap gunakanlah warna tulisan atau gambar yang lebih terang atau cocok perpaduannya, agar apa yang menjadi esensi dari kegiatan branding tersebut tersampaikan.

Baca juga: Jadikan Blog Bisnis Sebagai Penunjang Kegiatan Marketing Anda

Nah, itu dia hal-hal yang wajib Anda ketahui terkait dengan psikologi warna. Jangan sampai salah memilih warna untuk produk Anda, ya, karena akan berakibat cukup fatal terhadap branding yang ingin Anda bangun.