Hidup di era serba digital memudahkan siapapun untuk mengakses segala data yang tersedia di internet. Melalui jaringan online, semua orang terhubung dengan mudah meski harus terpisah jarak berkilometer jauhnya. Namun, meski terlihat menyenangkan, ada masalah yang harus digarap serius oleh para penyedia data agar tidak diretas oleh hacker.

Baca juga: Jaga Rahasia Pribadi Anda di Dunia Online dengan Cara Berikut

Ya, di era yang serba digital ini, data semakin mudah di dapat pun semakin mudah dicuri oleh sekelompok peretas. Data yang biasa dipakai untuk terbuhung dengan orang lain seperti e-mail, password, nomor telepon, hingga informasi pribadi seperti alamat dan rekening bank pun menjadi kian rawan dicuri oleh peretas.

Biasanya, para hacker mencuri data yang tersedia secara online untuk dijual kembali ke dark web atau website gelap. Kegiatan ilegal inilah yang membahayakan nama baik para pemilik data bila sampai informasi pribadi bocor dan berhasil ditemukan oleh hacker. Akibatnya, akan terjadi penyalahgunaan akun pribadi untuk transaksi ilegal yang melanggar hukum. Wah, harus waspada betul-betul, ya! 

Namun, meski terkesan menakutkan, ternyata ada pula hacker yang juga meretas data untuk tujuan yang baik. Dikutip dari How to Geek, Senin (13/03/2017), ada beberapa pengelompokan hacker sesuai dengan warna topi (sebutan untuk cara yang mereka gunakan). 

Berikut 3 jenis hacker yang harus beredar di internet untuk bisa diwaspadai: 

Black Hats 

Seperti namanya, black hats adalah hacker yang melakukan peretasan untuk tujuan ilegal dan melanggar hukum. Peretas topi hitam ini biasanya meretas untuk mendapatkan data pribadi pengguna yang akhirnya mereka gunakan untuk mencuri kartu kredit atau menginfeksi sebuah perangkat dengan virus atau program jahat lainnya sebagai bentuk penyerangan terhadap pihak lain.

Saking ilegalnya, black hats biasanya akan menyerang pada masa "zero-day", yaitu periode dimana sebuah sistem rentan diretas dan dicuri datanya. Pada masa ini, black hats akan menjual data yang berhasil mereka curi kepada organisasi kriminal. Nah, data inilah yang nanti akan digunakan untuk melakukan serangan siber. 

White Hats 

Bila black hats adalah peretas yang melakukan aksi untuk kejahatan, maka lain halnya dengan white hats. Peretas topi putih ini biasanya bergabung dengan organisasi, kelompok atau sebuah perusahaan justru untuk mencari celah pada sistem keamanan perusahaan yang rawan dicuri. Mereka akan bekerja sama dengan para developer dalam meningkatkan sistem keamanan agar tidak rawan dicuri oleh pihak tidak bertanggung jawab. 

Setiap aksi yang dilakukan oleh white hats sudah mengantongi izin resmi dan menerapkan norma hukum yang berlaku, kok. Berkat inilah, mereka para white hat juga dijuluki sebagai ethical hacker, yaitu peretas bersertifikat yang melakukan sebuah tindakan hacking yang dilakukan atas izin dan atas sepengetahuan pemilik. 

Gray Hats

Saat ada pihak hitam dan putih, selalu ada pihak yang berada di tengah-tengahnya. Dan gray hats, adalah sekelompok hacker yang bekerja diantara white hats dan black hats. Mereka biasanya meretas bukan untuk keuntungan personal, melainkan untuk menguji sistem keamanan sebuah perusahaan apakah sudah cukup aman atau belum. Sayangnya, cara mereka masih tergolong melanggar hukum dan dilakukan tanpa izin. Inilah yang membuat mereka dijuluki gray hats. 

Baca juga: Kenali Ciri-ciri Aplikasi Android yang Berbahaya

Meski tergolong melanggar hukum, kelompok gray hats memiliki sisi baik, lho. Setelah meretas sebuah sistem keamanan, mereka akan segera mempublikasikannya kepada khalayak umum. Tujuannya adalah untuk memberitahukan bahwa ada celah pada sistem keamanan yang rawan diretas oleh kelompok black hats.