Saat memasuki dunia perkuliahan, banyak orang yang bertanya kepada kita jika lulus nanti ingin melakukan apa? Bekerja atau membangun usaha? Pasti kebanyakan dari kita menjawab, “maunya sih bikin usaha, tapi…”. Rupanya, hal ini menjadi salah satu konsentrasi Adryan Hafizh, atau yang kerap disapa Yahee, seorang co-founder dan CEO dari Kolaborasi.co.

Apa itu Kolaborasi.co?

Kolaborasi.co adalah sebuah inkubator untuk startup yang memiliki akar bisnis di bidang konvensional namun bisa dipoles dengan inovasi teknologi serta bisnis model. Kolaborasi.co dibangun oleh Yahee dan beberapa rekannya untuk menjawab tantangan di masyarakat, khususnya para pemuda yang ingin membangun bisnis, namun karena tekanan sosial yang tinggi membuat para pemuda berkualitas ini lebih memilih untuk bekerja kantoran karena dinilai lebih aman dari segi finansial. Kolaborasi.co hadir untuk membantu mereka memfasilitasi banyak hal yang dibutuhkan oleh para entrepreneur muda, seperti memberikan mentoring, membangun komunitas dan yang paling sering menjadi kendala adalah permodalan.

Baca juga: Investor Talk: Joshua Agusta, Venture Capitalist & Technology Enthusiast - MDI Ventures

Yahee sebelumnya pernah mencoba bekerja di sebuah perusahaan konsultan, namun ia merasa banyak sekali potensi yang sebenarnya bisa ia curahkan lebih namun terbatas dengan aturan, struktur jabatan, jam kerja dan lain-lain. Sebagai pemuda, ia ingin membantu rekan-rekannya sesama anak muda di Indonesia untuk bisa merealisasikan potensi besar mereka dengan jalan membangun startup mereka sendiri. Untuk itulah ia membangun Kolaborasi.co ini pada bulan Oktober 2013 silam.

Tentu bukan hal yang mudah dalam membangun inkubator startup digital, apalagi industri ini masih tergolong sangat baru, dan komponen-komponen dalam ekosistemnya pun demikian, termasuk program inkubator yang hingga saat ini masih dikatakan belum begitu populer di masyarakat.

Selain itu dari sisi kualitas talent juga belum maksimal. Bukan berarti kualitas talent startup di Indonesia ini buruk, namun dari segi skill dan kesiapan founder untuk bisa mengaplikasikan ilmu yang mereka miliki ke dalam industri startup ini masih jauh dari standar. Di situlah peran Yahee, sebagai Chief Enabling Officer Kolaborasi.co sangat penting dalam membangun tim, incubatees, serta komunitas, agar para startup ini tidak hanya memikirkan profit semata, namun bisa turut serta dalam perubahan dan memberikan warna baru dalam industri bisnis mereka. Sebab, Kolaborasi.co tidak melihat hanya satu industri tertentu untuk di bangun, mereka tidak hanya fokus pada startup digital semata, tapi justru membantu startup konvensional untuk mengembangkan bisnis mereka ke arah yang lebih scalable.

Bagi Yahee, membentuk bisnis harus bisa menghasilkan profit secepat mungkin dengan tujuan keberlangsungan usaha itu sendiri. Nanti, jika sudah memasuki fase pengembangan produk, barulah boleh melakukan fundraising.

“Hal ini penting, terutama untuk meluruskan paradigma bahwa startup digital harus fundraising dan buang-buang uang,” terang Yahee kepada Indigo.

Yahee juga menuturkan bahwa mereka percaya, jika suatu startup digital pada masa awal sudah fundraising dan membakar uang dengan memberikan diskon yang banyak untuk pelanggan, itu artinya para pelanggan lebih tertarik membeli produk karena diskon, bukan karena produk itu sendiri.

“Tidak heran banyak yang startup digital yang cepat mati saat kehabisan nafas, padahal belum menemukan produk yang benar benar dibutuhkan oleh customernya,” lanjutnya.

Startup vs Investor 

Seringkali kita mendengar keluhan para startup founder mengenai sulitnya bertemu dengan investor yang cocok atau sulitnya mendapat kesempatan untuk memperkenalkan produk mereka kepada para investor. Bagi Yahee, ini adalah sebuah miskonsepsi yang sering terjadi di antara para startup founder bahwa raising fund adalah hal wajib yang harus dilakukan untuk mewujudkan bisnisnya.

Untuk fase raising fund ini, Yahee selalu menekankan pada startup binaannya mengenai 2 hal agar startup binaanya bisa sukses menggaet investor. Apa sajakah itu?

Pertama, yang harus dilakukan oleh startup founder pada pengembangan bisnis tahap awal adalah selalu fokus pada traksi dan angka. Jika sebuah startup memiliki traksi dan angka yang bagus, tidak menutup kemungkinan jika justru para investor lah yang malah melirik startup, bukan lagi startup yang mengejar-ngejar investor demi mendapatkan suntikkan dana.

Kedua, bangunlah relasi dengan investor dari jauh-jauh hari. Meskipun belum memiliki startup, penting sekali untuk membangun pertemanan dengan para investor, karena investor juga makhluk sosial yang perlu untuk bersosialisasi. Menurut Yahee, saat pertama kali bertemu dengan investor, sebaiknya jangan terlalu bernafsu untuk pitching. Sampaikan saja bahwa Anda memiliki ide dan sedang membutuhkan banyak masukkan dan saran untuk membangun startup. Jika dalam beberapa bulan berkesempatan bertemu lagi dengan investor tersebut, Anda bisa menceritakan perkembangan bisnis Anda. Hal ini akan lebih meninggalkan kesan yang baik di mata investor. Tidak menutup kemungkinan bahwa Anda yang akan di hubungi lebih dulu oleh para investor untuk berdiskusi tentang pengembangan bisnis Anda.

Untuk bisa membangun relasi dengan investor dari jauh-jauh hari, Yahee sebagai CEO memegang peranan penting. Ia menjembatani para startup binaannya dengan investor melalui community program yang dibangun dan dikembangkan olehnya dan tim. Hingga saat ini sudah ada 1500 orang yang tergabung dalam community program Kolaborasi.co.

Yahee juga dikenal banyak membantu para startup dalam membangun relasi dengan founder lain yang telah sukses terlebih dahulu dan juga dengan para investor. Ia mengajarkan bagaimana melakukan networking yang tepat, sehingga saat startup sudah memasuki fase fund raising, banyak sekali startup yang tidak lagi memerlukan Yahee untuk mencarikan investor, sebab mereka sudah mampu mencarinya sendiri melalui program-program komunitas yang Yahee bangun.

Baca juga: Investor Talk - Kevin Darmawan, Founder Coffee Ventures

Menarik sekali, bukan? Nah, dua hal inilah yang seringkali dilupakan oleh para startup founder. Mereka menganggap bahwa fundraising adalah suatu aktivitas, bukan sebuah proses. Padahal, tidak ada yang instan di dunia ini, semuanya butuh proses, begitu pula dengan fundraising.

Nah, jika Anda berada di Bandung dan tertarik untuk mengikuti community program Kolaborasi.co atau ingin mnegetahui berbagai program-program startup yang ditawarkan oleh Kolaborasi.co, Anda bisa mengunjungi tautan ini.