Sebuah aplikasi akan banyak digunakan orang apabila sesuai dengan kebutuhan, mampu mempermudah seseorang dalam melakukan sesuatu, dan juga menghadirkan sebuah pengalaman baru bagi pengguna. Semua hal tersebut erat kaitannya dengan UX sebuah aplikasi. Masalah-masalah mengenai UX tentu saja bukan hanya menjadi masalah pengguna, tapi juga masalah bagi para UX designer.

Baca Juga: Trik Untuk Optimalisasi Gambar Terhadap Mesin Pencari

Sebuah UX yang baik pada dasarnya adalah yang usefull dan bisa menjadi painkiller atas segala permasalahan user serta reliable. Jika sebuah aplikasi atau layanan tidak mampu menjadi painkiller dan useless, tandanya aplikasi tersebut telah gagal menjawab permasalahan yang dihadapi oleh user dan tidak memenuhi kebutuhan mereka. Tapi ketika sebuah aplikasi telah berhasil menjadi solusi bagi user namun tidak reliable, sama saja aplikasi tersebut tidak memberikan pengalaman yang baik bagi user.

Agar sebuah aplikasi dapat memberikan pengalaman yang baik bagi penggunanya, para UX designer harus tahu persis skala prioritas fitur yang paling banyak digunakan oleh pengguna dalam sebuah aplikasi. Contohnya adalah fitur Direct Mesaage (DM) di Instagram. Pada masa awal kemunculannya, pengguna Instagram harus memention temannya apabila ingin berbagi postingan lewat DM. Namun seiring dengan perkembangan dan pembaruan yang dilakukan developer, Instagram meletakkan fitur DM di sebelah fitur komentar, sehingga pengguna dapat jauh lebih mudah apabila ingin berbagi postingan ke teman.

Untuk mengetahui apa yang pengguna butuhkan, dan bagaimana respon pengguna terhadap aplikasi yang digunakan beserta fitur-fiturnya, maka developer harus rutin melakukan observasi. Observasi dapat dilakukan dengan cara usability testing atau interview langsung dengan pengguna. Dari sinilah developer dapat memutuskan, apakah perlu menambah fitur baru atau mengembangkan fitur yang sudah ada atau bahkan menghapus fitur bila ternyata tidak berguna bagi para pengguna.

Baca Juga: Mau Mudik? Pakai Google Maps Saja!

Penentuan pengguna atau user yang akan dijadikan bahan observasi dapat dilakukan dengan cara melihat history pemakaian fitur. Fitur atau layanan apa saja yang banyak mereka pakai. Sebagai contoh dalam aplikasi GO-JEK, kebanyakan pengguna yang menggunakan layanan GO FOOD adalah usia muda, maka user dengan usia muda lah yang dijadikan sample untuk observasi layanan tersebut.  

Demi perkembangan UX yang lebih baik, feedback dari pengguna memang sangat memegang pengaruh penting. Akan ada saja kemungkinan buruk mengenai layanan atau aplikasi yang diluncurkan, seperti ternyata layanan atau aplikasi tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan pengguna. Kemungkinan-kemungkinan seperti ini lah yang harus dijadikan bahan pembelajaran bagi para UX designer untuk melakukan perbaikan dan pengembangan selanjutnya.

Kebanyakan UX designer memiliki kebiasaan sering berasumsi. Misalnya seperti layanan GO FOOD. UX designer GO-JEK pada awalnya berasumsi bahwa foto makanan di layanan GO FOOD tidak terlalu penting. Namun ternyata adanya foto makanan sangat berpengaruh penting bagi keputusan pengguna akan membeli makanan tersebut atau tidak. Asumsi-asumsi seperti ini lah yang harus diminimalisir keberadannya. Pengambilan solusi dari setiap masalah haruslah berkaitan dengan tujuan bisnis dan impactnya pada pengguna dan perusahaan.