Di rubrik investor talk sebelumnya, kita telah berkenalan dengan dua investor muda dari dua venture capital berbeda. Kali ini, kita akan berkenalan dengan seorang investor yang memulai karirnya sebagai programmer di Amerika. Namanya Kevin Darmawan dari Coffee Ventures.

Apa Anda sudah mengenalnya? Atau Anda hanya sekadar tahu namanya saja? Daripada Anda terus berspekulasi tentang dirinya, lebih baik kita berkenalan lebih dekat dengan Kevin.

Baca Investor Talk Episode Sebelumnya: Investor Talk Bersama Joshua Agusta, Venture Capitalist & Technology Enthusiast - MDI Ventures

Mengawali Karir Sebagai Programmer

Kevin Darmawan, atau yang akrab di sapa dengan Kevin, mengenyam bangku kuliahnya di Amerika. Setelah lulus, ia tidak lantas kembali ke Indonesia, ia justru memulai karirnya sebagai programmer di sana. Tidak hanya sebagai programmer, ia juga mengambil peran dalam menjembatani antara kebutuhan teknologi dan unit bisnis strategis dalam perusahaan tempatnya bekerja. Tidak heran, karena saat kuliah dulu, ia mempelajari computer science dan bisnis sekaligus. Dua hal yang saat ini sangat berpotensi besar dalam ekonomi dunia.

Dengan mengambil dua peran penting tersebut, membuat Kevin berkesempatan untuk melihat bagaimana goal sebuah bisnis, erat kaitannya dengan perkembangan teknologi. Secara garis besar, Kevin dan timnya berupaya untuk membuat perusahaan menjadi lebih kompetitif dan menguntungkan melalui teknologi. Beberapa klien yang pernah Kevin pegang, di antaranya adalah IBM, Compuware, Suzuki dan Yamaha.

Kembali ke Indonesia dan Menjadi Angel Investor

Pada tahun 2008, penyuka olahraga brazillian jiu-jitsu ini, memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Ya, setelah 14 tahun tinggal di Amerika, kuliah dan membangun karirnya, tentu banyak orang yang menyayangkan keputusannya tersebut. Namun baginya, ia melihat dinamika dan kesempatan yang luar biasa besar untuk turut ambil bagian dalam membangun tanah kelahirannya, Indonesia, sebuah negara besar yang sedang berkembang dalam ranah bisnis dan teknologi.

Ada satu hal yang sebenarnya menggelitik Kevin dan akhirnya menjadikannya sebagai investor di ranah tech startup. Ia banyak melihat orang lain serta teman-temannya sukses membangun perusahaan besar di bidang real estate, pertambangan, perdagangan, bisnis ekspor-impor, dan lain-lain. Dan untuk bisa menjadi sukses di bidang-bidang bisnis tersebut, perlu modal dan terkadang memerlukan jaringan pertemanan yang spesial pula. Urunglah niat Kevin untuk terjun ke bisnis tersebut. Namun karena Kevin suka belajar tentang “power and possibility” dari sebuah teknologi, ia justru melihat teknologi inilah yang kedepannya akan mampu berperan penting dalam “equalize the opportunity”.

“Rasanya luar biasa melihat bagaimana sebuah teknologi bisa memberikan harapan dan kesempatan pada banyak orang,” tutur penggemar klub Liverpool ini.

Melalui teknologi ini pula, seseorang yang tadinya ia bukan siapa-siapa, ia bisa menjadi orang yang hebat dan dikenal oleh banyak orang.

Sebagai contoh, empat tahun yang lalu Kevin berinvestasi di Gift Card Indonesia (TADA Network). Dengan modal yang relatif kecil, perusahaan ini berkembang menjadi bisnis yang lumayan besar untuk ukuran startup. Mengapa? Sebab, dedikasi founder yang luar biasa, digabung dengan strategi teknologi dan eksekusi yang tepat, mampu membesarkan perusahaan ini.

Contoh lainnya, pada tahun lalu Kevin berinvestasi di perusahaan startup di Singapura bernama KeyReply dan Digest.ai (dua produk dibawah perusahaan dan tim yang sama). Ia begitu kagum melihat bagaimana mereka mampu menggunakan teknologi untuk berinovasi dan memberikan solusi dengan modal yang sangat kecil, namun memiliki dampak yang sangat besar. Belum genap dua tahun, startup ini diboyong untuk pindah ke San Fransisco karena mendapatkan pendanaan dari Amerika dan berkesempatan untuk menargetkan pasar Amerika. Dan beberapa minggu lalu terdengar kabar bahwa pemerintah Singapura akan membangun Facebook Chat Bot Service untuk membantu komunikasi antara pemerintah dengan warga Singapura. Dan siapa lagi kalau bukan KeyReply ini yang ditunjuk oleh pemerintah setempat untuk menggarap proyek luar biasa ini.

Dari Angel Investor menjadi Venture Capitalist

Bersama Eddy Lee, seorang warga negara Singapura yang sudah cukup lama berkarir di Sillicon Valley, Kevin membangun perusahaan venture capital bernama Coffee Ventures yang memfokuskan pada investasi tahap awal atau biasa disebut sebagai early-stage investment fund.

Mengapa dinamakan ‘Coffee Ventures’? Selain karena Kevin dan Eddy penyuka kopi, mereka melihat kebelakang, bahwa banyak sekali meeting, obrolan, pertukaran pikiran, ide, sekadar bertemu dengan orang yang hebat dan bahkan membuat keputusan untuk berinvestasi banyak dilakukan di warung kopi. Dan sesimpel itulah venture capital ini dinamakan dengan Coffee Ventures.

Dalam hal vertikal, Kevin mengatakan bahwa Coffee Ventures cukup agnostik dalam memilih startup yang akan di investasi. Namun, tentunya ada beberapa vertikal yang menjadi prioritas Coffee Ventures berdasarkan latar belakang, pengalaman, network dan passion dari Kevin dan Eddy, yaitu di ranah kesehatan, pendidikan, keuangan dan sumber daya manusia. Terlepas dari semua itu, yang terpenting adalah bagaimana founder memiliki passion dan keseriusan dalam menyelesaikan permasalahan, dan setelah itu mereka akan melihat bagaimana mereka bisa membantu.

Secara umum, fokus pendanaan Coffee Ventures adalah di tahap seed investment, yaitu tahap di mana startup tersebut masih mencari atau sudah mendekati product-market fit. Mereka melihat di tahap itulah di mana mereka bisa banyak memberi nilai yang lebih praktis dan juga strategis. Namun, ada beberapa pengecualian juga, contohnya pada awal tahun ini, Coffee Ventures berpartisipasi dalam pendanaan Seri A untuk sebuah perusahaan marketplace untuk mobil di Singapura bernama Carro.sg.

“But again, our focus is on seed stage investment,” tekan Kevin.

Prediksi Ekosistem Startup di 2017

Selama tahun 2016 ini, bisa dikatakan startup sedang mengalami musim dingin. Perkembangan startup dinilai melambat. Investorpun lebih berhati-hati dalam memberikan pendanaan pada startup. Apakah musim dingin akan terus berlanjut di tahun 2017?

Kevin menilai, meski di tahun ini bisnis startup berjalan agak lesu, di tahun depan baik founder maupun investor bersama-sama akan menentukan bagaimana menyelesaikan permasalahan ini. Semakin cepat para founder belajar menjalankan bisnis dengan lebih baik, termasuk berekspektasi yang tidak terlalu muluk, dan semakin cepat para investor belajar tentang bagaimana membantu para founder ini dalam melalui perjalanan penuh lika-liku ini, niscaya musim dingin akan segera berlalu.

Dan meskipun dunia startup sedang dilanda musim dingin, di tahun 2016 ini banyak juga startup yang berhasil mendapatkan pendanaan, terutama pendanaan Seri A. Kevin juga memprediksikan bahwa di tahun 2017, tren pendanaan Seri A masih akan terus berlanjut, sebab mulai banyak investor dari luar negeri yang mulai mempelajari bisnis startup di Indonesia dan membuka jalur investasi ke startup dalam negeri.

“So, the money is there!” tuturnya.

Penting sekali bagi startup yang saat ini sudah mendapatkan pendanaan tahap awal untuk mulai banyak berkomunikasi dan membangun relasi dengan investor di seri A. Pelajari apa yang menjadi kriteria investor dalam mengambil keputusan untuk melakukan pendanaan dan cek apakah bisnis Anda sudah berjalan di arah yang tepat.

Sesungguhnya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk para startup founder pemula untuk memulai startup. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk mengobservasi apa yang sedang terjadi pada saat ini, juga pelajari hal-hal dasar seperti mengurusi operasional, teknologi, bisnis, produk, keuangan dan lain sebagainya sebelum benar-benar memulai bisnis Anda.