Kali ini kita akan mengetahui serba-serbi mengenai dunia Startup dan cara mereka menarik hati para investor bersama Joshua Agusta, Venture Capitalist & Technology Enthusiast - MDI Ventures.

Menurut Joshua, hal pertama yang harus dipersiapkan oleh startup ketika mencari investor untuk fundraising ialah produk. Sebaiknya sebelum mencari investor untuk fundraising, produk harus mencapai minimal pada tahap working prototype. Sangat jarang investor yang mau menerima startup yang masih pada tahap ideasi. Hal yang kedua adalah a well-structured pitch deck. Sangat jarang investor/VC yang ingin langsung melakukan face-to-face meeting tanpa melihat pitch decknya terlebih dahulu. Struktur pitch deck juga harus disusun dengan baik (biasanya struktur tersebut mencakup 10-15 deck saja) dan memfokuskan hal-hal yang krusial, minimal seperti problem statement, problem with current solutions, solutions offered, unique value prepositions, competitive landscape, market size, go-to-market strategy, product roadmap, serta founders’ profile. Hal yang terakhir yaitu, sebelum bertemu investor, ada baiknya jika founder juga melakukan penelitian atas investor/VC yang akan ditemui. Biasanya ada 3 hal yang perlu dicari tahu: preferred, stage of investment, preferred ticket size, dan investment thesis. Sangat disarankan untuk mencari tahu 3 hal tersebut dari VC yang akan ditemui, untuk membuat proses pitching menjadi lebih efisien.

Joshua mengatakan, startup yang diinvestasikan oleh MDI biasanya berada pada stage Series A ke atas. Kriterianya secara general adalah memiliki proprietary technology dan business model yang solid dan bisa bersinergi dengan salah 1 unit bisnis dari Telkom Group, karena MDI merupakan Corporate Venture Capital dari Telkom. Harapannya, Telkom dapat memberikan market access dan infrastruktur kepada para startup, dan sebaliknya, para startup melalui teknologi yang dimiliki dapat mengungkit aset-aset yang dimiliki oleh Telkom, sehingga memiliki dampak bisnis yang signifikan pada tubuh perusahaan-perusahaan Telkom Group.

Menurut Joshua, kualitas founders startup Indonesia pada dasarnya kualitasnya makin lama semakin baik. Jika dilihat dari fenomena yang ada, sudah banyak repatriating founders (mahasiswa Indonesia yang pernah belajar dan bekerja di startup luar negeri, kemudian pulang ke Indonesia mendirikan startup), menurutnya hal ini sangat baik untuk pertumbuhan ekosistem di Indonesia. Namun, masih banyak juga founder-founder startup yang membangun startup karena tren semata. Sangat disayangkan karena apabila alasan founders tersebut hanya karena “hype”, maka hampir dapat dipastikan mereka akan gagal, karena produk yang ditawarkan cenderung medioker, tidak inovatif dan memecahkan masalah.

Kesan yang ia berikan kepada 13 startup yang berhasil lanjut ke tahap inkubasi di Indigo Batch 2 ialah beberapa dari mereka memiliki potensi untuk menjadi besar, terutama apabila melihat kualitas founder dan masalah yang mereka coba untuk atasi melalui startup-startup mereka. Ada beberapa juga yang memiliki model bisnis yang unik, sehingga cukup menarik untuk dilihat kelanjutannya. Ia menambahkan untuk tahap awal startup seperti yang ada di dalam program Indigo, hal yang paling penting adalah kemampuan eksekusi - apakah mereka benar-benar bisa mewujudkan seluruh rencana mereka dan menyesuaikan dengan keinginan pasar sampai memperoleh product-market fit, yang tidak lain merupakan tujuan akhir dari startup-startup yang ada di dalam program Indigo.