Sejak diluncurkan secara resmi pada bulan Agustus 2017 yang lalu, marketplace khusus produk kuliner yang bernama Wakuliner telah mengalami perkembangan yang cukup menjanjikan. Hingga saat ini, aplikasi mobile mereka telah diunduh sebanyak 40 ribu kali, dengan pengguna sebanyak 30 ribu orang.

Startup tanah air tersebut pun telah berhasil menggaet lima ribu merchant untuk berjualan di platform mereka. Para merchant itu pun tidak hanya terpusat di Jakarta, melainkan tersebar di 151 kota di Indonesia.

Puncaknya, pada bulan Oktober 2018 ini, mereka berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Best E-Commerce Startup dalam ajang ASEAN Rice Bowl Startup Awards 2018. Semua prestasi tersebut bisa mereka raih tanpa pernah menerima pendanaan eksternal di luar Indigo Creative Nation.

Bagaimana sebenarnya perjalanan mereka hingga menjadi sebesar sekarang? Mari simak wawancara kami dengan sang CEO, Anthony Gunawan, berikut ini.

Bagaimana perasaan anda berhasil menjadi salah satu penerima penghargaan ASEAN Rice Bowl Startup Awards?

Sangat senang, tentu saja. Kamu sangat bahagia dengan apresiasi yang diberikan. Apalagi Rice Bowl sebelumnya juga telah memberikan apresiasi kepada startup besar seperti GO-JEK dan Grab. Jadi, saya sangat bangga.

Bisa diceritakan sedikit tentang model bisnis Wakuliner?

Kami adalah marketplace kuliner pertama di Indonesia, dengan misi utama untuk menjadi solusi kuliner all in one. Karena itu, layanan utama kami adalah Kuliner Nusantara, yang memungkinkan kamu untuk memesan makanan khas dari 151 kota di Indonesia.

Selain itu, kami pun mempunyai layanan katering. Berbeda dengan banyak layanan lain di tanah air, kami melayani konsumen perusahaan, bukan perorangan. Saat ini kami telah melayani beberapa perusahaan besar, seperti Hotel Mulia, Hotel Sheraton, Emirates Airline, MatahariMall, MPR & DPR RI, Jurnal, dan banyak perusahaan serta BUMN besar lainnya.

Kami pun mempunyai layanan pengiriman makanan siap saji, yang sedikit mirip dengan GO-FOOD dan GrabFood. Namun kami belum terlalu fokus di layanan ini.

Dan yang terakhir, kami mempunyai marketplace waralaba (franchise). Dengan layanan itu, kamu bisa memilih berbagai waralaba menarik yang bisa kamu ikuti untuk mengembangkan investasi.

Barang seperti apa yang paling laris terjual di platform Wakuliner?

Sambal merupakan produk paling laris di platform kami. Setelah itu diikuti dengan makanan seperti rendang dan ikan yang telah divakum, sehingga bisa tahan lebih lama. Selain itu ada juga snack kering.

Bagaimana Wakuliner bisa menggaet banyak merchant dalam waktu relatif singkat?

Meski baru melakukan soft launching di bulan Agustus 2017, Wakuliner sebenarnya telah mulai dikembangkan sejak tahun 2016. Saya, bersama kakak saya Alena Wu dan motivator terkenal Tung Desem Waringin, pun mulai menggaet merchant untuk berjualan di platform Wakuliner sejak saat itu.

Kami memulai dengan melakukan pemasaran secara offline. Kami mendatangi para merchant yang ada di lima puluh kota satu persatu, secara door to door. Hal ini memang membutuhkan biaya yang tinggi, namun terbukti cukup efektif. Selain itu, kami pun memanfaatkan jaringan dari co-founder kami Bapak Tung Desem Waringin untuk terus menambah jumlah merchant.

Setelah itu, baru kami melakukan pemasaran secara digital, telemarketing, dan semacamnya.

Beberapa startup lebih memilih untuk langsung melakukan digital marketing di awal dan baru melakukan marketing secara offline kemudian. Mengapa Wakuliner justru melakukan sebaliknya?

Kami sebenarnya pernah mencoba melakukan digital marketing pada awal tahun 2017. Namun hasilnya tidak begitu bagus, efektivitasnya sangat rendah. Berdasarkan laporan dari agensi digital, serta data dari para founder perusahaan besar lainnya, hal tersebut terjadi karena masyarakat cenderung curiga ketika diperkenalkan terhadap sesuatu yang baru.

Karena itu, kami memutuskan untuk memperkenalkan produk kami secara offline terlebih dahulu. Setelah mendapat cukup banyak merchant, dan nama kami telah dikenal orang, baru kami mulai memasarkan Wakuliner secara online.

Saya dengar model bisnis Wakuliner sebelumnya serupa dengan GO-JEK dan Grab. Bisa diceritakan apa yang terjadi sehingga kalian mengubah model bisnis?

Pada awalnya, model bisnis kami memang serupa dengan GO-FOOD dan GrabFood. Ketika mengetahui bahwa mereka mulai agresif, kami pun mengadakan rapat besar dan membahas apakah kami akan bersaing secara langsung dengan mereka? Beranikah kami “membakar” duit seperti mereka?

Kami pun memutuskan, dengan banyaknya modal yang mereka miliki, kami tidak akan menang apabila langsung “pukul-pukulan” dengan mereka. Karena itu, pada awal 2017, kami mengubah model bisnis kami menjadi seperti sekarang.

Dari pengalaman tersebut, apa yang bisa kamu sarankan kepada para founder startup yang bersaing dengan startup besar?

Menurut saya, yang terpenting bagi seorang founder startup adalah memahami bagaimana kondisi pasar saat ini, serta bagaimana kekuatan dan kelemahan para kompetitor. Kemudian kita harus memilih ingin berhadapan dengan mereka secara head to head, atau puas dengan pangsa pasar yang kecil.

Dari situ, kita bisa membuat sebuah rencana strategis, apa yang harus kita lakukan. Apakah harus terus menjalankan model bisnis yang sama? Atau justru mengubahnya?

Kalau kamu masih ragu, kamu bisa mencoba untuk tetap bersaing dengan mereka selama beberapa waktu. Dari situ, kamu harus menghitung seberapa besar dampaknya untuk startup kamu? Positif atau negatif? Selain itu, kamu pun bisa memikirkan untuk berkolaborasi dengan startup atau perusahaan lain agar bisa tetap bersaing.

Dengan kisah jatuh bangun tersebut, apa alasan yang membuat kamu tetap bertahan membangun Wakuliner?

Meski pengalaman saya lebih banyak di bidang teknologi, namun saya sebenarnya mempunyai jiwa entrepreneurship yang kuat. Saya berasal dari keluarga yang menjalankan usaha sendiri. Saya pun telah mengikuti pendidikan S2 di bidang manajemen. Karena itu, membangun sebuah usaha seperti Wakuliner merupakan passion saya.

Selain itu, saya pun mempunyai misi yang jelas sejak awal, yaitu untuk menasionalisasikan dan menginternasionalisasikan kuliner Indonesia. Saya dan keluarga merupakan penggemar kuliner, dan kami yakin bahwa kuliner Indonesia merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Sayangnya, sangat sulit untuk menikmati makanan dari daerah lain. Hal tersebut pun semakin sulit ketika kita tengah berada di luar negeri. Oleh karena itu, pada akhir tahun 2018 ini, kami berniat untuk melakukan ekspor ke beberapa negara di Asia.

Apa tantangan terbesar yang dihadapi Wakuliner saat ini?

Saya merupakan satu-satunya founder yang benar-benar fokus mengelola startup ini. Dua co-founder lain, Alena Wu dan Tung Desem Waringin, mempunyai kesibukan lain yang tidak bisa mereka tinggalkan.

Saat ini saya memang telah mendapat dukungan dan bantuan yang luar biasa dari istri saya dan semua karyawan Wakuliner, namun itu belum cukup. Mengapa? Karena posisi sebagai founder pertama tentu akan berbeda dengan karyawan yang masuk kemudian. Sulit untuk menemukan orang yang mau mengorbankan jiwa, darah, dan keringat untuk startup ini seperti saya dan para founder awal.

Masalah ini diperparah dengan minimnya talenta berkualitas di Indonesia. Kebanyakan dari mereka sudah bergabung dengan startup besar. Sedangkan yang lain justru meminta gaji yang sangat besar. Untuk mengatasi masalah tersebut, saya coba menerima mahasiswa magang dalam jumlah yang cukup banyak.

Kamu merupakan salah satu peserta inkubator Indigo milik Telkom Group, bagaimana dampak hal tersebut untuk Wakuliner?

Sangat besar. Nama besar Telkom Group benar-benar membantu kami dalam menjalin kemitraan dengan pihak lain.

Contohnya dalam rencana kami untuk menggandeng Jasa Marga, agar kami bisa membangun solusi pemesanan makanan di Rest Area. Dengan layanan tersebut, para pengendara mobil yang melewati jalan tol bisa memesan makanan secara online sebelumnya (pre order), agar waktu mereka ketika berada di Rest Area bisa lebih efisien.

Kami telah coba menjalin kerja sama dengan Jasa Marga sejak lama, namun pergerakannya kurang cepat. Ketika kami membawa nama besar Telkom Group, persiapan inisiatif dan perjanjian kerja sama menjadi sangat cepat. Jasa Marga menjadi lebih percaya diri jika Telkom Group menjadi mitra dan akan mendukung eperluan teknologi mereka. Dan sekarang kami tengah mengembangkan solusi teknologi tersebut bersama mereka.

Apa target Wakuliner untuk ke depannya?

Sebelumnya kami masih fokus untuk akuisisi merchant. Saat ini kami memang masih melakukan itu, namun tahun ini kami ingin fokus untuk mengakuisisi pengguna. Selain itu, kami juga ingin meningkatkan branding, dan mencari pendanaan dari investor. Kami merasa telah sampai pada tahap di mana kami bisa berkembang lebih cepat, dan membutuhkan bantuan investor.

Bila kamu mempunyai kesempatan untuk memasang tulisan di sebuah billboard raksasa sehingga bisa dibaca para founder startup lain, tulisan apa yang akan kamu pasang?

We have to work hard, work smart, and work with our heart.

(Kita harus bekerja keras, bekerja pintar, dan bekerja dengan hati)