Menurut sebuah penelitian yang dilakukan MicroMentor pada tahun 2014, perusahaan yang mempunyai mentor bisa menaikkan pendapatan mereka hingga 83 persen. Sedangkan perusahaan yang berjalan tanpa bantuan mentor rata-rata hanya bisa mendapat tambahan penghasilan sebesar 16 persen.

Pengaruh serupa pun terjadi di dunia startup. Sejumlah 42 persen calon startup yang mempunyai mentor akhirnya berhasil meluncurkan bisnis mereka. Sedangkan untuk calon startup yang tidak mempunyai mentor, hanya 29 persen di antaranya yang kemudian berhasil meluncurkan bisnisnya.

Fenomena tersebut pun menjadi alasan mengapa program pembinaan startup seperti inkubator atau akselerator umumnya akan menonjolkan kualitas mentor sebagai salah satu keunggulan mereka. 

Namun, bagaimana sebenarnya cara yang terbaik untuk memilih dan mengelola para mentor tersebut? Simak ulasan berikut ini.

Pertama: Keahlian dan Pengalaman Mentor adalah Hal Utama


Salah satu hal utama dalam memilih mentor adalah dia harus mempunyai keahlian mumpuni untuk dibagikan kepada para startup yang mengikuti program inkubator/akselerator tersebut. Misalnya Indigo yang mempunyai mentor dengan keahlian di berbagai bidang, mulai dari UI/UX, Product Development, Big Data, Entrepreneurship, dan lainnya.

Untuk mengetahui data mentor Indigo sendiri bisa dilihat di sini.

Namun, keahlian saja tidak cukup. Para mentor tersebut juga harus mempunyai pengalaman yang cukup matang di bidang tersebut, sehingga bisa memberikan pandangan dan perspektif baru kepada para founder startup yang tengah dibina. Mengapa hal ini penting? Karena terkadang kondisi di dunia nyata bisa jauh berbeda dengan apa yang kalian pelajari di kelas atau buku.

Bukan hanya itu, mentor yang berpengalaman juga akan mengerti bagaimana sulit dan beratnya menjadi seorang founder startup. Oleh karena itu, mereka juga bisa memberikan dukungan moral yang dibutuhkan oleh para founder startup tersebut.

Kedua: Nework Luas yang Dimiliki Mentor juga Menjadi Pertimbangan