Pada bulan Mei 2017 yang lalu, sebuah jaringan akselerator bisnis bernama Global Accelerator Learning Initiative (GALI) telah merilis sebuah laporan tentang perkembangan program akselerator startup di seluruh dunia. 

Dalam laporan yang disusun sejak tahun 2013 tersebut, mereka menganalisis pertumbuhan pendanaan yang didapat oleh 2.000 perusahaan dari 42 program akselerator di seluruh dunia. 

Hasilnya, startup yang bergabung dengan akselerator ternyata bisa tumbuh jauh lebih cepat dibanding startup yang mendaftar, namun tidak diterima oleh program akselerator. 

Bila membandingkan negara asal para startup tersebut, rata-rata pertumbuhan pendanaan yang didapat oleh startup lulusan akselerator di negara berkembang seperti Indonesia ternyata tidak jauh berbeda dengan di negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang.

Sayangnya, apabila kita melihat total nominal pendanaan yang diterima oleh para startup di negara berkembang, jumlahnya masih sangat jauh dari yang diterima oleh para startup di negara maju. Padahal, startup di negara berkembang rata-rata sudah berusia lebih tua, mendapatkan lebih banyak pemasukan, serta merekrut lebih banyak karyawan.

Para founder startup di negara berkembang pun mempunyai latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, dan pengalaman entrepreneurship yang tidak kalah dengan founder startup di negara maju. Namun, tetap saja para investor masih ragu untuk berinvestasi besar kepada mereka.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Dan apa yang bisa dilakukan akselerator untuk mengubahnya sehingga bisa meningkatkan efektivitas programnya? Berikut enam hal yang bisa dilakukan oleh para akselerator tersebut.

1. Membantu Startup Menemukan Strategi Pendanaan yang Tepat


Secara umum, sebuah startup membutuhkan pendanaan untuk bisa berkembang lebih cepat. Namun, menurut penelitian GALI, para founder startup di negara berkembang cenderung lebih fokus pada pengembangan produk dan strategi pemasaran, dibanding mencari investor.

Hal inilah yang harus dibenahi oleh para program akselerator startup. Apabila startup binaan mereka sebenarnya perlu mencari pendanaan secepat dan sebanyak mungkin, maka dorong mereka untuk melakukan itu. Namun, apabila mereka memang tidak perlu pendanaan dalam waktu cepat, jangan terlalu memaksakan mereka untuk mengincar pendanaan.

Ingat, tidak hanya ada satu jalan untuk menuju kesuksesan.

2. Memfasilitasi Startup Menemukan Investor yang Tepat

Untuk startup yang memang telah sampai di tahap membutuhkan pendanaan, sebuah program akselerator harus memastikan bahwa mereka bisa bertemu dengan investor yang tepat. Sayangnya, kebanyakan akselerator lebih memilih untuk mengadakan acara di mana para startup bisa melakukan pitching di depan banyak investor seperti Demo Day, yang mungkin tidak semuanya menaruh perhatian kepada startup tersebut.

Akan lebih baik apabila sebuah program akselerator bisa menganalisis kebutuhan startup mereka dan kebutuhan investor, lalu melakukan “perjodohan” dengan tepat.

3. Bantu startup menemukan talenta berkualitas


Sebuah program akselerator startup seharusnya tidak hanya fokus pada aspek finansial dari sebuah startup, namun juga pada aspek lain seperti sumber daya manusia. Hal ini seringkali menjadi masalah karena kurangnya network dari sang founder, menyebabkan mereka kesulitan mencari talenta berkualitas.

Oleh karena itu, akan lebih baik apabila program akselerator bisa membantu para startup tersebut untuk merekrut karyawan penting seperti CTO dan siapa yang harus mereka rekrut.

4. Hapus Bias Berdasarkan Ras dan Gender

Salah satu masalah yang terjadi di negara berkembang adalah bias yang terjadi di sisi investor. Banyak investor yang masih enggan memberikan investasi kepada founder perempuan. Selain itu, mereka juga sering menganggap seorang founder tidak berkualitas hanya karena mereka merupakan orang lokal yang tidak begitu pandai menggunakan bahasa Inggris.

GALI sendiri menyatakan bahwa founder yang berasal dari luar negeri bisa mendapat pendanaan dua kali lebih banyak dibanding para founder lokal di negara-negara berkembang. Bias-bias seperti inilah yang harus coba diatasi oleh para akselerator, dengan cara memberikan analisis yang lengkap dan jujur tentang kualitas para founder di negara tersebut.

5. Membantu Investor Mengenali Pasar Lokal


Salah satu hal yang menjadi penghalang investasi untuk startup di negara berkembang adalah kurangnya pengetahuan investor terhadap kondisi bisnis di negara tersebut. Laporan GALI menunjukkan bahwa di Afrika Barat banyak investor yang menyiapkan dana di atas US$500 ribu (sekitar Rp7,3 miliar) untuk setiap startup. Padahal sebenarnya para startup di sana hanya membutuhkan pendanaan US$50 ribu (sekitar Rp730 juta).

Itulah mengapa program akselerator startup di negara berkembang memainkan peranan penting untuk menjaga ekspektasi baik dari startup dan juga dari para investor. 

6. Mengarahkan Startup untuk Menerapkan Model Bisnis yang Tepat