Sektor fintech negara ini berpengaruh dalam mengantarkan Swedia bisa bergerak dengan sangat pesat walaupun tanpa banyak menggelontorkan uang, sesuatu yang cukup disukai beberapa negara Asia bahkan Korea Selatan dan Singapura berniat untuk meniru. Namun, pemandangan fintek di Asia mengalami tingkat kemajuan yang bervariasi, negara-negara Asia memiliki keberagaman budaya dan memiliki kondisi ekonomi yang berbeda.

Baca juga: 7 Pelajaran Penting dari Aplikasi WeChat

Di satu sisi, ada negara maju dalam hal ekonomi pasar seperti Korea Selatan, Singapura, dan China yang dengan bangga mengadopsi konsep fintech yang semakin booming. Di sisi lain ada negara berkembang seperti India dan seluruh Asia Tenggara dimana fintech sepertinya belum lepas landas. Lalu hal apa saja yang penting untuk diketahui masyarakat Asia mengenai fintech ini?

Menguasai Sikap Pasar

Usaha Fintech harus secara aktif menangani kebutuhan spesifik dan menyesuaikan layanan mereka sesuai dengan pertimbangan mengenai sikap pasar yang tetap dalam kategori wajar. Di Swedia, rekening bank sangat penting bagi keuangan rakyat. Orang Swedia menerima gaji, melakukan pembayaran, dan mentransfer dana melalui rekening bank mereka. Mereka juga menggunakannya sebagai bukti kapasitas keuangan saat mengajukan pinjaman.

Pemain fintech Swedia fokus pada pola pikir yang yang eksklusif ini dan dan tentunya menjaga budaya profesional agar tetap tepercaya. Sejumlah negara Eropa lainnya juga memiliki sikap yang sama terhadap sistem pembayaran dengan debit, perusahaan-perusahan besar dapat tumbuh sebagai solusi ekonomi regional dengan pembayaran lintas batas.

Sederhanakan Sistem Untuk Semua Orang

Meminjam uang dari institusi yang kuno, atau dengan cara yang lama bisa menjadi proses yang melelahkan, dengan beberapa bentuk dan dokumen yang perlu dipersiapkan. Beberapa kreditur bahkan akan meminta jaminan sebelum mereka memproses permohonan peminjaman tersebut. Namun, platform pinjaman berbasis tekonolgi di Stockholm Lendify berusaha untuk membuat pinjaman lebih mudah melalui model pinjaman peer-to-peer.

Alih-alih menjadi pemberi pinjaman itu sendiri, perusahaan tersebut justru menghubungkan peminjam kredit dengan kreditur yang bersedia. Bagi peminjam, permohonan bisa diajukan melalui aplikasi web. Bagi calon pemberi pinjaman, mereka cukup memasukkan uang mereka ke Lendify untuk memberikan pinjaman kepada peminjam. Perusahaan mengizinkan pembayaran ke dan dari rekening bank, sehingga keseluruhan proses bisa dilakukan melalui komputer.

Berkolaborasi Daripada Berkompetisi 

Alih-alih mengambil sikap tanpa kompromi dan memandang bank sebagai ancaman, usaha berbasis fintech di Swedia justru berhasil menemukan jalan bersama untuk berkolaborasi. Misalnya, Izettle memungkinkan usaha kecil menerima pembayaran kartu kredit menggunakan perangkat seluler. Di antara para investornya adalah MasterCard, American Express, dan Santander. Perubahan sweeping juga akan terjadi begitu perintah pembayaran melakukan revisi Uni Eropa atau PSD2 yang akan berlaku pada tahun 2018.

Baca juga: Belajar Atasi Krisis Startup Bersama Slack

PSD2 memungkinkan konsumen mengizinkan layanan pihak ketiga mengakses informasi akun mereka. Misalnya, aplikasi keuangan pribadi dapat mengelola keuangan pengguna secara langsung karena dapat memanfaatkan API bank untuk mengelola dana. Perintah juga akan mempermudah transaksi lintas batas, hal ini juga menciptakan peluang baru bagi fintech Eropa untuk memberikan sistem finansial yang unik kepada pengguna.