Di artikel-artikel sebelumnya, saya telah menjelaskan beberapa keuntungan yang bisa didapat seorang founder startup apabila mereka bergabung dengan sebuah program inkubator atau akselerator.

Namun, mungkin masih ada beberapa dari kalian yang tidak percaya bahwa program seperti itu bisa membawa pengaruh yang positif terhadap perkembangan startup kalian.

Oleh karena itu, saya pun menghadirkan informasi tentang beberapa startup di luar Indonesia yang berhasil menjadi besar setelah mendapatkan bimbingan dalam program inkubator atau akselerator. Berikut ini adalah beberapa di antaranya.

Dropbox

Dropbox adalah sebuah layanan penyimpanan berbasis cloud yang didirikan pada tahun 2007 oleh dua orang mahasiswa Massachusetts Institute of Technology, Drew Houston dan Arash Ferdowsi. Startup yang berbasis di San Francisco, Amerika Serikat, tersebut kini telah berhasil masuk bursa saham Amerika Serikat. Valuasi mereka saat ini telah mencapai US$9,2 miliar (sekitar Rp 132 triliun).

Dengan layanan mereka, kamu bisa menyimpan berbagai file seperti dokumen, audio, dan video, yang bisa kamu akses kapan saja dan di mana saja. Untuk mendapatkan uang, mereka menghadirkan layanan berbayar untuk kalian yang menginginkan kapasitas penyimpanan file yang lebih besar.

Di masa-masa awal perkembangan mereka, Dropbox pernah mengikuti program akselerator Y Combinator di Amerika Serikat.

Airbnb 

Airbnb adalah startup asal San Francisco yang memungkinkan kamu untuk terhubung dengan pengguna lain yang bisa menyewakan penginapan seperti apartemen, homestay, dan hostel dengan harga yang terjangkau. Saat ini mereka telah hadir di 191 negara, dengan jumlah penginapan yang bisa disewa mencapai lebih dari lima juta lokasi.

Startup ini didirikan oleh tiga orang founder, yaitu Brian Chesky, Joe Gebbia, dan Nathan Blecharczyk pada tahun 2008. Mereka kini telah mengumpulkan pendanaan lebih dari US$4,4 miliar (sekitar Rp 63 triliun) dan mempunyai kantor di sekitar dua puluh negara.

Namun sebelum mencapai semua prestasi tersebut, Airbnb hanya merupakan startup kecil yang sempat menimba ilmu di akselerator startup Y Combinator.

Buffer

Buffer adalah aplikasi yang bisa memudahkan kamu dalam mengelola akun di berbagai media sosial, seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan LinkedIn. Dengan layanan yang mereka sediakan, kamu bisa mengatur kapan kamu akan mempublikasikan sebuah konten, serta menganalisis hasilnya.

Layanan ini didirikan oleh sebuah kelompok developer asal Inggris yang dipimpin oleh Joel Gascoigne dan Leo Widrich. Startup yang mulai dikembangkan sejak tahun 2010 tersebut kini telah memiliki 4,5 juta pengguna terdaftar dan pemasukan tahunan lebih dari US$16 juta (sekitar Rp 230 miliar).

Ketika para founder Buffer baru hijrah dari Inggris ke Amerika Serikat, mereka memutuskan untuk bergabung dengan sebuah inkubator startup yang bernama Angelpad.

LendingClub